Gempa Flores, Mertin Lusi Dorong Gotong Royong dan Suarakan Penguatan Literasi

  • 18 Agt 2026 13:16 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini dirasakan berbeda oleh masyarakat Flores yang masih menghadapi gempa bumi dan sejumlah gempa susulan. Pendiri Rumah Baca Isi Langga sekaligus relawan literasi Kabupaten Ngada, Mertin Lusi, mengungkapkan keprihatinannya atas dampak bencana yang membuat warga harus bertahan hidup di tenda darurat dengan logistik yang sangat terbatas.

Mertin menilai kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan gotong royong bagi masyarakat yang sedang terdampak bencana. Dalam wawancara bersama RRI Kupang pada Senin, 17 agustus 2026, Mertin menyebut, sejumlah wilayah di Kabupaten Ngada seperti Riung, Riung Barat, Golo Mese dan bagian utara Aimere masih menghadapi dampak gempa, bahkan terdapat desa yang terisolasi dan masyarakat yang bertahan di tenda-tenda darurat dengan keterbatasan logistik.

Ia bersama para relawan pun membuka posko donasi dan berencana bergerak dari kampung ke kampung untuk mengumpulkan bantuan bagi wilayah yang paling membutuhkan. Menurut Mertin, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa semangat kemerdekaan harus hadir dalam bentuk solidaritas nyata, bukan sekadar perayaan.

Di tengah situasi kebencanaan, Mertin juga menyoroti pentingnya literasi sebagai bagian dari perjuangan membangun masyarakat yang berdaulat dan mampu mengambil keputusan secara kritis. Baginya, literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, serta menggunakan ruang digital secara bijak, terutama ketika masyarakat membutuhkan informasi kebencanaan yang akurat.

Semangat tersebut telah ia bangun melalui Rumah Baca Isi Langa yang didirikan sejak 2013, dengan menghadirkan berbagai aktivitas bagi anak-anak, mulai dari sekolah adat, kelas memasak, kelas alam, camping hingga kelas inspirasi bersama para relawan. Mertin mengatakan ruang literasi itu menjadi tempat anak-anak belajar melalui pengalaman dan praktik, bukan hanya membaca buku.

Bagi Mertin, perjuangan menghadirkan akses pendidikan yang setara juga merupakan bagian dari memaknai kemerdekaan, sebab masih terdapat masyarakat di pelosok yang menghadapi keterbatasan buku, internet, infrastruktur dan fasilitas pendidikan. “Literasi itu bahan bakar berdaulat. Kalau masyarakat yang sudah literat, dia tidak mudah dimanipulasi secara politik dan ekonomi,” tegasnya.

Mertin berharap setiap kampung dan desa di NTT memiliki ruang literasi yang hidup dan mendapat dukungan berkelanjutan, sementara pemerintah menjadikan literasi sebagai investasi utama bagi manusia. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengambil peran nyata dalam mendukung gerakan literasi dan solidaritas kemanusiaan.

Mertin menekankan keberadaan relawan dan kepedulian sosial merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa. "Jadikan literasi sebagai investasi manusia, bukan sekadar pelengkap program, dan mari kita bantu sesama karena bukan seberapa hebat kita, tetapi seberapa berguna kita bagi orang lain," tutupnya. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....