PKM One Health Dorong Pencegahan Stunting di Desa Oenggaut Rote Ndao

  • 11 Agt 2026 08:28 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berbasis pendekatan One Health mulai dijalankan di Desa Oenggaut, Kecamatan Rote Barat, Kabupaten Rote Ndao, sebagai upaya memperkuat pencegahan stunting dan meningkatkan kesehatan masyarakat pesisir. Program ini memanfaatkan platform Posyandu Siklus Hidup untuk menjangkau seluruh kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia.

Desa Oenggaut dipilih karena termasuk wilayah dengan angka stunting yang tinggi di Kabupaten Rote Ndao. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao per Juni 2024, tercatat 2.539 balita stunting di tingkat kabupaten dan 265 balita stunting berada di Kecamatan Rote Barat.

Kabupaten Rote Ndao sendiri berstatus daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta menjadi sasaran prioritas Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (SNLKI) 2021–2025. Akar persoalan stunting di wilayah ini tidak hanya terkait gizi, tetapi juga kemiskinan, rendahnya pendidikan, pernikahan dini, sanitasi yang buruk, dan tingginya risiko penyakit menular.

Tim pelaksana menjelaskan bahwa program PKM mengintegrasikan dua intervensi utama dalam satu sistem layanan Posyandu Siklus Hidup. Intervensi pertama adalah edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sejak dini menggunakan buku popup interaktif bergambar karakter lokal pesisir Rote.

Media ini dirancang agar anak balita dan anak usia sekolah dapat belajar kebiasaan sehat melalui metode visual dan cerita yang menyenangkan. Intervensi kedua adalah deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) dan zoonosis melalui skrining tekanan darah, gula darah, status gizi, dan anemia pada ibu serta lansia, disertai edukasi penyakit zoonosis seperti leptospirosis, cacingan, dan toksoplasmosis.

Pendekatan One Health dipilih karena masyarakat Desa Oenggaut hidup sangat dekat dengan lingkungan laut, hewan ternak, dan hasil laut. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.

Infeksi berulang akibat sanitasi buruk dan zoonosis dapat mengganggu penyerapan zat gizi pada anak sehingga memperburuk kondisi stunting. Karena itu, dokter hewan dalam tim PKM juga melakukan inspeksi sanitasi lingkungan dan memberikan rekomendasi perbaikan higienitas pengolahan hasil laut serta pengelolaan limbah rumah tangga.

Kegiatan direncanakan berlangsung selama enam bulan dengan satu kali kegiatan lapangan terpadu yang melibatkan kader Posyandu, perangkat desa, dan Puskesmas Rote Barat. Tahapan pelaksanaan meliputi koordinasi dan perizinan, asesmen awal, penyusunan perangkat intervensi, pelaksanaan kegiatan lapangan, monitoring pascakegiatan, hingga evaluasi akhir dan diseminasi hasil.

Tim berharap model intervensi ini dapat menjadi contoh penanganan stunting berbasis komunitas di desa pesisir lainnya di Kabupaten Rote Ndao. Selain kegiatan lapangan, program ini juga menghasilkan sejumlah produk edukasi dan skrining yang dapat digunakan secara berkelanjutan oleh kader Posyandu.

Produk tersebut meliputi buku popup PHBS, buku saku kader Posyandu Siklus Hidup, kartu skrining kesehatan keluarga, lembar balik One Health, dan poster siklus hidup. Seluruh produk dirancang sebagai bahan pendamping Posyandu rutin bulanan sehingga manfaat program tetap berlanjut setelah pendampingan selesai.

Tim PKM menargetkan peningkatan pengetahuan PHBS anak minimal 30 persen berdasarkan hasil pre-test dan post-test, serta sedikitnya 80 persen kader mampu menggunakan buku popup secara mandiri. Kartu skrining kesehatan keluarga diharapkan menjadi alat pemantauan kesehatan rutin yang membantu kader mendeteksi faktor risiko PTM sejak dini dan melakukan rujukan tepat waktu ke fasilitas kesehatan.

Ketua tim pelaksana menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui pemberian makanan tambahan. Menurutnya, perubahan perilaku hidup sehat, deteksi dini penyakit, sanitasi lingkungan, dan pengendalian zoonosis harus berjalan bersamaan agar pertumbuhan anak dapat optimal. Dengan melibatkan tenaga kesehatan manusia, tenaga kesehatan hewan, kader Posyandu, pemerintah desa, dan keluarga, program ini diharapkan mampu membangun sistem pencegahan stunting yang lebih komprehensif dan berkelanjutan di Desa Oenggaut.

Dalam jangka panjang, program PKM One Health ini diharapkan dapat menurunkan kejadian infeksi berulang pada balita, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PHBS dan sanitasi, memperluas cakupan deteksi dini PTM dan zoonosis, serta memperkuat kapasitas kader Posyandu sebagai agen perubahan kesehatan di tingkat desa. Jika hasilnya efektif, model intervensi ini berpotensi direplikasi pada desa-desa pesisir lain di Kecamatan Rote Barat dan wilayah 3T lainnya di Nusa Tenggara Timur. (JR/Tim PKM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....