Raja Amanuban Bantah Isu Penobatan Jokowi Sebagai Raja Timor
- 02 Agt 2026 14:32 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Keturunan Raja Amanuban, Pina Ope Nope menegaskan bahwa informasi tentang penobatan Joko Widodo sebagai Raja Timor adalah berita bohong. Kehadiran raja-raja pada Karnaval Gajah yang diselenggarakan di Kelurahan LLBK, Kota Kupang, semata-mata untuk menghormati kedatangan Presiden Ke-7 RI.
"Kami sama sekali tidak pernah dan tidak ada diskusi tentang penobatan raja. Raja-raja yang diundang untuk hadir hanya untuk mengalungkan selendang sebagai ucapan selamat datang kepada tamu kehormatan, Pak Jokowi," kata Raja Amanuban, Pina Ope Nope kepada RRI Kupang, Minggu, 02 Agustus 2026.
Menurut Raja Amanuban, Pina Ope Nope, ada indikasi upaya memfitnah para raja yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pemberian gelar sebagai sesepuh atau raja dikatakan memiliki aturan dan mekanisme sehingga tidak dapat dilakukan tanpa tata cara adat.
"Para raja sudah menegaskan ke pihak penyelenggara untuk tidak mengartikan yang aneh-aneh dan kalau ada bahasa yang keluar itu hanya isu liar dari orang yang tidak berkompeten. Pernah ada usulan untuk kasih gelar adat, tapi kami menolak karena kalau mau beri gelar adat harus ada kaitan dengan budaya kita," ucap Raja Amanuban, Pina Nope.

Pemerhati Budaya Helong Dominikus Tauk menjelaskan bahwa penghormatan yang dilakukan kepada kepada seorang tamu berbeda dengan prosesi penobatan raja. Dikatakan pemberian gelar raja harus dilakukan melalui mekanisme serta musyawarah dan mendapatkan persetujuan dari masyarakat atau komunitas adat.
"Jadi kalau memberi penghormatan, itu berbeda dengan mengukuhkan seseorang sebagai raja. Karena gelar raja itu, memiliki dasar-dasar yang harus dipertimbangkan, misalnya dilihat dari garis keturunan dan harus ada kesepakatan bersama masyarakat yang punya adat, bisa tidak menerima itu," kata Domi Tauk.
Menanggapi informasi yang beredar, Dominikus Tauk menilai bahwa prosesi tersebut tidak sah karena tidak sesuai dengan ketentuan adat. Ia berharap tidak ada lagi pihak-pihak yang menyebarkan isu-isu yang membelokkan makna tradisi atau budaya sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.
"Saya kira itu tidak bisa mewakili seluruh elemen masyarakat untuk kemudian memberikan peneguhan beliau sebagai raja atau sesepuh. Kita perlu ingat, di Kupang ini ada begitu banyak raja-raja yang dulunya ada di Pulau Timor. Saya kira ini sesuatu yang sudah di luar konteks," ucap Domi Tauk.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....