Angkat Limbah Tenun, 2 Mahasiswa PNK Raih Penghargaan 'Juara 3 Excellent Article' OAV
- 13 Jul 2026 08:58 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Mahasiswa Program Studi Akuntansi Sektor Publik Politeknik Negeri Kupang kembali mengharumkan nama kampus dengan meraih Juara 3 Excellent Article pada Olimpiade Akuntansi Vokasi 2026 yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Madiun bulan Mei lalu. Prestasi tersebut diraih melalui artikel yang mengangkat penerapan green accounting terhadap pengelolaan limbah pewarna pada industri tenun lokal di Kota Kupang, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa akuntansi mampu berkontribusi dalam isu lingkungan dan pelestarian budaya.
Dalam artikel tersebut, tim yang terdiri dari Osfred Alfonsus Alfonsius Lalang dan Khairil menyoroti pentingnya memperhitungkan biaya pengelolaan limbah sebagai bagian dari praktik green accounting. Mereka melihat bahwa proses produksi tenun, khususnya penggunaan pewarna, perlu disertai pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
"Green accounting membahas biaya-biaya pengelolaan limbah atau sisa produksi. Kami ingin melihat apakah limbah pewarna itu benar-benar dikelola atau langsung dibuang begitu saja," ujar Osfred.
Untuk memperkuat data, kedua mahasiswa tersebut turun langsung ke sentra tenun Kampung Alor dan Ina Ndao guna mewawancarai para pengrajin. Dari hasil observasi, mereka menemukan bahwa sejumlah pelaku usaha telah memiliki proses penyaringan limbah sebelum dibuang sehingga lebih aman bagi lingkungan.
Penelitian mereka juga mengungkap tantangan yang dihadapi pengrajin tenun dalam memilih bahan pewarna. Menurut hasil wawancara di lapangan, pewarna alami kini semakin sulit diperoleh, sementara pewarna buatan lebih mudah diakses dan menghasilkan warna yang lebih tahan lama, sehingga para pengrajin berada dalam dilema antara menjaga kualitas produk dan mempertimbangkan dampak lingkungan.
Dari hasil investigasi tersebut, ditemukan bahwa meskipun sebagian besar pengrajin beralih ke pewarna pabrik karena kendala bahan alami, kesadaran terhadap kelestarian lingkungan tetap terjaga melalui sistem penyaringan limbah air sisa pencelupan benang sebelum dibuang. Integrasi antara manajemen biaya lingkungan dan peran mahasiswa sebagai agen perubahan menjadi kekuatan utama yang memikat perhatian dewan juri.
Tidak hanya membahas aspek lingkungan, artikel tersebut juga menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan budaya tenun Nusa Tenggara Timur. Melalui wawancara dengan mahasiswa Program Studi Teknik Tenun Undana, mereka menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam melestarikan tenun sekaligus mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.
Khailril menilai, sinergi antara kesadaran ekologis dan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya merupakan poin penting yang harus disuarakan. Langkah ini diharapkan mampu memicu minat anak muda NTT lainnya untuk lebih mencintai dan menjaga warisan tenun ikat.
"Budaya kita itu keren, sangat-sangat keren. Kita bangga karena memang pada saat melihat motifnya, kok bisa ya mereka kepikiran sedetail itu, sekreatif itu mereka," ungkap Kairil dengan penuh antusias mengekspresikan kekagumannya terhadap dedikasi para pengrajin lokal di Kupang.
"Anak muda sekarang perlu lebih mencintai budaya sendiri. Mahasiswa bisa menjadi agen perubahan dengan ikut menjaga tenun sekaligus memperhatikan dampak lingkungannya," ungkap mahasiswa asal Kabupaten Alor ini.
Sementara Osfred menilai kekuatan utama artikel mereka terletak pada penyajian persoalan nyata yang dihadapi pengrajin tenun, mulai dari pemilihan pewarna hingga pengelolaan limbah yang dikaitkan dengan konsep green accounting. "Kekuatan artikel kami ada pada dilema penggunaan pewarna alami dan buatan, kemudian bagaimana limbahnya dikelola sesuai standar, serta peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang memperkuat pembahasan tersebut," katanya.
Prestasi nasional ini menjadi bukti bahwa ilmu akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka dan laporan keuangan, tetapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial, budaya, dan lingkungan. Melalui gagasan green accounting, mahasiswa Politeknik Negeri Kupang berhasil menunjukkan bahwa pelestarian tenun lokal dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk menghasilkan karya ilmiah yang memberi dampak nyata bagi masyarakat. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....