Menghidupkan Ideologi Pancasila di Era Digital ala Parlemen Remaja Provinsi NTT
- 30 Jun 2026 18:33 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Generasi muda dinilai tidak cukup hanya menghafal lima sila Pancasila, tetapi juga harus memahami makna dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi penting dalam membangun karakter generasi muda di tengah tantangan era digital yang dipenuhi arus informasi dan berbagai pengaruh dari luar.
Hal tersebut disampaikan Anggota Parlemen Remaja Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025, Philip Soubiris Hendrikus Ola, saat menjadi narasumber dalam program dialog RRI Pro 2 Kupang pada Senin, 30 Juni 2026. Menurutnya, Pancasila bukan sekadar materi pelajaran, melainkan pandangan hidup yang harus diwujudkan melalui sikap saling menghargai, menghormati, dan menjaga persatuan.
"Menurut saya bukan generasi muda saja, tetapi semua masyarakat harus memahami Pancasila. Kalau kita cuma menghafal tanpa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, maka itu tidak ada gunanya," ujar Hendrik.
Di era digital yang dinamis, tantangan terbesar anak muda adalah maraknya penyebaran berita bohong atau hoaks yang dapat memicu perpecahan sosial. Remaja berprestasi ini mengingatkan teman sebanyaknya agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menjaga ketikan serta emosi mereka saat bermedia sosial.
Hendrik kemudian membagikan pengalaman pribadinya dalam mengamalkan nilai Pancasila dengan cara aktif meluruskan informasi keliru di dalam grup WhatsApp keluarga. Ia selalu berupaya mencari berita yang valid terlebih dahulu guna mengedukasi generasi tua agar tidak mudah terjebak oleh narasi palsu.
Pengalaman berharga selama mengikuti simulasi sidang di gedung DPR RI menyadarkan Hendrik akan pentingnya sikap menghargai perbedaan pendapat antar-daerah. Nilai-nilai Pancasila terbukti menjadi kompas utama yang mampu menyatukan berbagai aspirasi pemuda dari seluruh penjuru Indonesia demi mencapai mufakat.
Ia mengatakan, tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya derasnya perkembangan teknologi, tetapi juga maraknya penyebaran hoaks di media sosial. Karena itu, anak muda harus menjadi teladan dalam menggunakan media sosial secara bijak dengan memverifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
Hendrikus menilai pemahaman terhadap Pancasila akan membentuk perilaku yang lebih bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap saling menghormati perbedaan, menjaga etika dalam berkomunikasi, hingga tidak mudah terprovokasi merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila di era digital.
"Kita jangan hanya menghafal Pancasila, tetapi harus memahaminya. Ketika kita memahami arti setiap sila, otomatis perilaku kita akan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kita juga harus saling menghormati, saling menghargai, dan jangan mudah menyebarkan berita yang belum pasti," kata siswa SMA Katolik Giovanni Kupang ini.
Selain aktif mengedukasi melalui media sosial, Hendrikus juga mengajak generasi muda untuk berkontribusi langsung di lingkungan sekitar melalui kegiatan sosial dan pendidikan. Baginya, semangat Pancasila dapat diwujudkan lewat aksi sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menjadi relawan pendidikan, hingga ikut menyuarakan aspirasi masyarakat secara positif.
Di akhir dialog, Hendrikus mengingatkan agar generasi muda tetap terbuka terhadap perkembangan zaman tanpa melupakan jati diri bangsa. Ia berharap nilai-nilai Pancasila terus menjadi pedoman dalam menjaga persatuan Indonesia serta mendorong anak muda untuk aktif mengambil peran dalam membangun bangsa.
"Kiranya teman-teman tidak hanya menghafal Pancasila, tetapi memahami maknanya dan mengamalkannya. Sebagai generasi muda, kita juga harus menjaga persatuan, tidak mudah terjebak hoaks, serta membuktikan bahwa budaya lokal kita mampu bersaing di tingkat nasional maupun dunia," tutupnya. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....