Youth Advisory Kupang Dorong Gerakan Menabung Air dengan Biopori dari Rumah

  • 16 Mei 2026 15:02 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Masalah pengelolaan sampah dan minimnya daerah resapan air di Kota Kupang memicu kegelisahan mendalam di kalangan generasi muda setempat. Menanggapi urgensi tersebut, Indonesian Youth Advisory (IYA) Kupang mengambil langkah konkret dengan mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya pembuatan lubang resapan biopori.

Dalam wawancaranya bersama RRI Kupang pada Jumat, 15 Mei 2026, dua anggota Indonesia Youth Advisory (IYA) Kupang menyebut langkah ini dinilai sangat krusial mengingat tata kelola ruang kota yang semakin padat telah menurunkan daya serap tanah terhadap air hujan secara drastis. Dampak nyatanya adalah genangan air yang kerap meluap saat musim hujan, sementara kekeringan ekstrem melanda wilayah Kupang ketika musim kemarau tiba.

Agustina Santana Maya, menjelaskan bahwa pembuatan biopori secara mandiri di lingkungan rumah tangga sebenarnya sangat mudah dilakukan. "Satu hal kecil yang kamu lakukan untuk bumi, dampaknya tuh bisa besar banget," ujar perwakilan bidang publikasi dan dokumentasi yang akrab disapa Santana Maya tersebut.

Cara membuat biopori dinilai cukup mudah dan dapat dilakukan dari rumah menggunakan alat sederhana seperti linggis, cangkul, atau bor biopori. Maya menjelaskan lubang biopori umumnya memiliki diameter sekitar 10 hingga 30 sentimeter dengan kedalaman 50 hingga 100 sentimeter, lalu dapat diperkuat menggunakan pipa paralon agar tidak longsor saat musim hujan.

Menurut Maya, terdapat dua jenis biopori yakni biopori alami dan lubang resapan biopori yang dibuat manusia. Ia mengatakan biopori alami terbentuk dari aktivitas organisme seperti akar tanaman, cacing, dan semut yang menciptakan rongga-rongga tanah untuk memperlancar resapan air hujan.

Lebih lanjut, metode ini tidak hanya efektif untuk menabung air di dalam tanah, tetapi juga menjadi solusi cerdas dalam memaksimalkan pengelolaan sampah organik. Warga dapat memanfaatkan peralatan sederhana seperti linggis atau bor biopori untuk membuat lubang sedalam 50 hingga 100 sentimeter di pekarangan rumah mereka.

Narasumber lainnya dari IYA Kupang sekaligus mahasiswi Biologi Undana, Intan Nur Amalia Ramadani, turut menekankan manfaat ganda dari sisa sampah dapur yang dimasukkan ke dalam lubang tersebut. "Selain menabung air, menyimpan air itu juga bisa menjadi tempat untuk sampah organik," kata Intan menerangkan fungsi ekologis biopori.

Intan menyebutkan pemanfaatan sampah organik seperti kulit buah, sisa sayur, dan sampah organik lainnya dapat dimasukkan ke dalam biopori sehingga menjadi kompos alami yang bermanfaat bagi tanah. Ia berharap jika gerakan kecil dari rumah dapat memberikan dampak besar jika dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Kota Kupang.

Guna memperluas dampak positif ini, IYA Kupang telah menyiapkan program strategis bersama Project Glow untuk mensosialisasikan gerakan biopori secara langsung. Target utama dari program edukasi ini adalah menyasar masyarakat di wilayah Kabupaten Kupang yang selama ini masih minim akses informasi lingkungan.

Melalui sinergi lintas komunitas dan pemanfaatan media sosial, gerakan menanam air ini diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif yang dimulai dari lingkup terkini. Kesadaran konservatif dari rumah masing-masing menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan pasokan air bersih demi masa depan NTT yang lebih lestari. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....