Menghidupkan Lentera Literasi Anak-Anak Pesisir dengan Pembelajaran Kreatif

  • 12 Mei 2026 16:33 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Gerakan literasi kreatif dan inklusif terus digelorakan para guru di Kabupaten Rote Ndao demi meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak pesisir. Melalui komunitas Ruang Berbagi Ilmu (RUBI), para guru berupaya menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak.

Kepada RRI dalam wawancara pada Senin, 12 Mei 2026 Guru UPTD SD Inpres Tolama sekaligus perwakilan RUBI Kabupaten Rote Ndao, Jimmy Banunaek mengatakan gerakan tersebut lahir dari semangat untuk membangun pendidikan yang lebih baik di wilayah pesisir. Menurutnya, literasi tidak hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga bagaimana anak mampu memahami informasi dan berani mengekspresikan diri.

“RUBI ini merupakan gerakan kerelawanan yang mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk terjun langsung berbagi ilmu di berbagai daerah. Kami di Rote memiliki visi yang sama untuk membangun pendidikan dan meningkatkan literasi anak-anak pesisir,” ujar Jimmy saat dialog di Pro 2 RRI Kupang. Gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap rendahnya indeks literasi di Rote Ndao yang saat ini masih berada pada angka 60,5 atau kategori menengah.

Ia menjelaskan, tantangan literasi di daerah pesisir masih cukup besar, mulai dari keterbatasan infrastruktur hingga minimnya bahan bacaan yang sesuai dengan kemampuan anak. Bahkan, banyak perpustakaan sekolah maupun desa yang belum dimanfaatkan secara maksimal karena koleksi buku yang kurang menarik bagi anak-anak.

Untuk mengatasi hal tersebut, para guru menerapkan berbagai metode kreatif dalam pembelajaran literasi. Kegiatan seperti membaca 15 menit setiap hari, kunjungan perpustakaan, mendengarkan cerita, membuat jurnal membaca, hingga menulis kreatif menjadi bagian dari proses belajar anak-anak di sekolah.

“Anak-anak bukan hanya diajak membaca, tetapi juga memahami isi bacaan, membuat pertanyaan, hingga menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Bahkan kalau mereka kesulitan menggunakan bahasa Indonesia, kami memakai bahasa ibu agar mereka lebih mudah memahami,” ujar Jimmy.

Jimmy mengaku pendekatan kreatif dan inklusif tersebut mulai menunjukkan dampak positif bagi anak-anak pesisir di Rote Ndao. Ia melihat anak-anak kini lebih berani berbicara, aktif bertanya, dan semakin percaya diri menunjukkan hasil karya mereka di sekolah.

Menurutnya, keberhasilan gerakan literasi tidak bisa hanya dibebankan kepada guru semata, tetapi membutuhkan dukungan semua pihak. Ia berharap pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan masyarakat dapat terus berkolaborasi menghadirkan akses pendidikan dan bahan bacaan yang layak bagi anak-anak pesisir.

Kolaborasi menjadi kunci utama dalam gerakan ini, di mana Ruby Rote Ndao menggandeng berbagai pihak seperti yayasan "Bantu Guru Belajar Lagi" dan program "Buku Bagi NTT". Sinergi ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan mendesak akan buku-buku bacaan berkualitas yang memiliki visual menarik serta konten yang relevan dengan kehidupan anak-anak pesisir.

“Harapan kami, semakin banyak pihak yang mau bergandengan tangan membangun pendidikan di Rote. Literasi harus benar-benar hidup di sekolah maupun masyarakat, sehingga anak-anak pesisir juga punya kesempatan yang sama untuk tumbuh menjadi generasi masa depan yang hebat,” ujarnya, mengakhiri. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....