Peringatan Hardikas jadi Seruan Pemerataan Pendidikan di Perbatasan
- 04 Mei 2026 05:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei menjadi momentum refleksi mendalam mengenai pemerataan akses pendidikan di Indonesia, khususnya di wilayah perbatasan. Dalam obrolan khusus "Akamsi" RRI Pro 4 Kupang, Sabtu, 2 Mei 2026, Frederikus Suni, pendiri TAFENPAH, menyoroti realitas pahit pendidikan namun penuh semangat dari anak-anak di garis depan perbatasan.
"Pendidikan adalah jantung pembangunan. Di perbatasan, pendidikan bukan hanya soal angka literasi tetapi soal martabat batas. Tanpa pendidikan yang kuat, SDM kita akan kalah bersaing dengan negara tetangga," ujarnya
Menurutnya, anak-anak di daerah perbatasan Desa Haumeni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), harus menempuh medan yang berat ke sekolah, melewati perbukitan dengan jarak tempuh mencapai 7 kilometer, bahkan dalam kondisi jalan yang rusak dan berlumpur saat musim hujan. Lebih jauh lagi, fasilitas sekolah seringkali memprihatinkan, dengan kondisi bangunan yang rusak atau atap bocor, serta minimnya akses laboratorium dan perpustakaan.
Selain infrastruktur fisik, isu teknologi menjadi hambatan serius. Frederikus menyebutkan bahwa akses internet di perbatasan masih sangat terbatas, karena seringkali, anak-anak harus mencari titik sinyal di ketinggian atau perbukitan untuk mendapatkan akses informasi, yang terkadang justru terhubung dengan jaringan dari negara tetangga.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, Frederikus menyoroti bahwa anak-anak di perbatasan memiliki daya juang yang sangat tinggi karena melihat pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk mengubah nasib. Menanggapi lambatnya eksekusi pembangunan oleh pemerintah setempat, Frederikus menekankan pentingnya kesadaran kolektif.
Ia mengajak tokoh adat, tokoh agama, dan komunitas untuk terus bergerak tanpa harus selalu menunggu intervensi pemerintah.
"Kita tidak hanya mengharapkan pemerintah untuk mengurus pendidikan ini. Harus ada kesadaran kolektif bahwa ini adalah tanggung jawab bersama," katanya.
Di akhir perbincangan, Frederikus memberikan pesan inspiratif bagi anak-anak di wilayah perbatasan agar tidak membiarkan keterbatasan fasilitas memadamkan impian mereka. Ia juga berharap pemerintah tidak hanya melihat perbatasan sebagai garis pertahanan keamanan, tetapi juga sebagai "garis pertahanan intelektual" dengan memberikan insentif lebih bagi guru dan memperbaiki fasilitas belajar.
"Keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk kita berhenti bermimpi. Teruslah belajar, mendengarkan, dan membangun konektivitas. Pendidikan adalah senjata untuk mengubah dunia," tuturnya. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....