Profil Inspiratif Katarina Leni: Ahli Gizi di Balik SPPG Noelbaki Kupang

  • 02 Mei 2026 18:09 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Katarina Leni, seorang sarjana gizi yang kini menjadi sorotan, merupakan sosok kunci di balik kesuksesan operasional Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) Noelbaki di Kabupaten Kupang. Sebagai SPPG pertama yang menjalankan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak 6 Januari 2025 lalu, Leni memikul tanggung jawab besar dalam memastikan setiap porsi memenuhi standar kesehatan yang ketat.

Dalam program siaran Spada Talking pada Jumat, 1 Mei 2026 di RRI Pro 2 Kupang, Leni menceritakan kisah perjalanan, tantangan, hingga komitmennya dalam mengoptimalkan pemenuhan gizi seimbang bagi ribuan penerima manfaat setiap hari. Perjalanan Katarina Leni di dunia gizi bukanlah hal instan, melainkan berangkat dari pengalaman panjang di bidang sosial dan menjadi satgas penanganan stunting.

Ia mengaku panggilan jiwanya untuk kembali ke bidang gizi semakin kuat setelah sebelumnya terlibat sebagai satgas stunting selama tiga tahun. “Ini benar-benar ke dasar bagi saya, karena sebelumnya saya juga banyak bergerak di bidang stunting dan pelayanan masyarakat,” ucapnya.

Momentum penting dalam kariernya terjadi saat ia bergabung dengan SPPG Noelbaki, dapur pertama di NTT yang menjalankan program MBG sejak 6 Januari. Dalam kondisi serba terbatas di awal, ia bersama tim harus melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat dari 12 sekolah hanya dengan berpedoman pada petunjuk teknis.

“Awal-awal kami benar-benar memulai dari nol, bahkan saya sempat bingung bagaimana mengaplikasikan juknis ke dalam kerja nyata,” ujarnya. Seiring berjalannya waktu, SPPG Noelbaki berkembang pesat hingga mampu melayani lebih dari 3.600 penerima manfaat per hari, termasuk balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Tak hanya itu, dapur ini kini menjadi rujukan pembelajaran bagi berbagai daerah di NTT bahkan luar wilayah. “Puji Tuhan, sampai hari ini kami tidak pernah mengalami kejadian luar biasa dan justru menjadi dapur rujukan,” kata Leni.

Di balik kesuksesan tersebut, terdapat kerja keras tanpa henti, termasuk rutinitas bekerja sejak dini hari demi memastikan keamanan dan kualitas makanan. Ia menekankan bahwa peran ahli gizi tidak hanya menyusun menu, tetapi juga mengawasi seluruh proses dari bahan baku hingga distribusi.

“Tugas kami adalah memastikan semua alur berjalan sesuai standar, dari bahan masuk sampai makanan diterima,” ujarnya. Tugas utamanya meliputi merancang menu seimbang, mengawasi proses pengolahan, memantau keamanan pangan (food safety), serta mengevaluasi dampak gizi.

Kreativitas menjadi kunci utama dalam menyajikan menu yang tidak hanya bergizi tetapi juga menarik bagi anak-anak. Katarina Leni mengembangkan berbagai inovasi olahan pangan lokal seperti ubi, tempe, dan sayur agar lebih diterima oleh penerima manfaat.

“Kami harus putar otak, misalnya tempe tidak disajikan biasa tapi diolah jadi perkedel atau bola-bola agar anak-anak mau makan,” tuturnya. Lebih dari sekadar program makan gratis, Katarina Leni melihat MBG sebagai gerakan edukasi gizi yang melibatkan masyarakat luas, termasuk keluarga dan sekolah.

Ia berharap kesadaran akan pentingnya gizi seimbang dimulai dari rumah, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. “Lebih baik kita manfaatkan pangan lokal yang gizinya tinggi daripada makanan instan yang kurang nilai gizinya,” katanya. (AK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....