Eksistensi tanpa Batas : Didimus Anapah Menanggalkan Gelar demi Memperkuat Peran

  • 29 Apr 2026 21:29 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang - Menjadi seorang duta seringkali dianggap sebagai puncak prestasi yang berakhir ketika selempang jabatan berpindah tangan, namun bagi Didimus Kisnai Anapah, masa jabatan hanyalah garis awal untuk kontribusi yang lebih besar.

Sosok yang dikenal sebagai Terbaik I Duta Bahasa NTT 2024 sekaligus Duta Rupiah Flobamorata 2025 ini membuktikan bahwa pengaruh nyata seorang pemimpin muda tidak melekat pada gelar, melainkan pada keberlanjutan aksi di tengah masyarakat. Dalam wawancara Talkspace pada Selasa, 29 April 2026 di RRI Pro2 Kupang, Didi mengungkapkan tantangan terbesar seorang mantan duta adalah bagaimana tetap relevan dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar tanpa validasi jabatan formal.

Menurut Didi, makna terbesar dari sebuah gelar duta adalah bagaimana seseorang mampu memberi dampak nyata kepada masyarakat. “Yang paling penting itu bagaimana kamu bisa berbagi dan memanfaatkan pencapaianmu untuk orang lain,” tegasnya.

Mahasiswa Ilmu Hukum Undana ini menegaskan bahwa dedikasi harus dimulai dari niat tulus untuk menjadi solusi bagi daerah, sekecil apapun ruang lingkup yang dimiliki saat ini. Ia juga bercerita bahwa perjalanannya sebagai duta bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga proses pembelajaran yang penuh dinamika emosi.

Ia mengakui bahwa momen paling emosional justru hadir saat harus melepas gelar yang pernah diperjuangkan. “Sedih ketika harus meninggalkan gelar dan melihat orang lain melanjutkan, tapi itu jadi refleksi bagaimana dulu saya berproses hingga bisa berada di titik itu,” ungkapnya.

Meski kini tengah bergelut dengan tugas akhir, Didi tetap aktif menyuarakan edukasi literasi keuangan dan pelestarian budaya melalui platform digital. Baginya, teknologi adalah kunci untuk menjaga dokumentasi dan warisan program kerja agar tetap bisa diakses oleh generasi penerus, seperti konten kosakata bahasa Dawan yang rutin ia unggah.

Penelitian skripsinya mengenai efektivitas larangan biaya tambahan (surcharge) pada QRIS menjadi bukti nyata bagaimana ia membawa perannya sebagai Duta Rupiah ke ranah akademis. Didi tidak hanya sekedar berteori, tetapi terjun langsung membedah masalah yang sering dialami konsumen di pasar-pasar maupun tempat usaha di Kota Kupang guna memberikan rekomendasi kebijakan bagi instansi terkait.

Kesuksesan bagi Didi bukan tentang menjadi manusia yang sempurna, melainkan tentang kerendahan hati untuk terus belajar dan keluar dari zona nyaman demi kepentingan orang banyak. Ia berpesan agar anak muda tidak terjebak pada pencarian validasi semata, tetapi fokus pada apa yang bisa diberikan untuk kemajuan desa, kota, hingga provinsi mereka sendiri.

Ia juga menekankan bahwa menjadi duta bukan berarti harus sempurna, melainkan terus belajar dan bertumbuh. “Tidak ada manusia yang sempurna, tapi yang ada adalah mereka yang mau belajar untuk menjadi lebih baik,” tuturnya.

Melalui perbincangan tersebut, Didi berharap agar setiap pencapaian yang diraih anak muda NTT dapat menjadi "pintu perubahan" yang berkelanjutan. Ia ingin dikenal bukan hanya karena prestasinya di masa lalu, tetapi sebagai individu yang senantiasa mendedikasikan ilmu dan akses yang dimilikinya untuk kemaslahatan masyarakat Flobamorata.

Menutup perbincangan, Didimus berpesan kepada generasi muda agar tidak bergantung pada gelar untuk mulai berdampak. “Jangan tunggu tervalidasi dulu baru bergerak. Mulailah dari hal kecil, karena masa depan NTT ada di tangan kita sendiri,” pungkasnya. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....