Tiga Kunci Melawan Perundungan Versi Anggota Pelajar Anti Bullying asal NTT
- 25 Apr 2026 10:59 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Fransiskus Xaverius Albertino Sola, atau yang akrab disapa Franco, membuktikan bahwa menjadi korban perundungan (bullying) bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk sebuah perubahan besar. Dalam wawancara kepada RRI pada Sabtu, 25 April 2026, pelajar kelas 11 SMKN 2 Soe, Kabupaten TTS ini kini aktif menyuarakan gerakan anti-perundungan setelah berhasil mengubah trauma masa lalunya menjadi motivasi untuk berprestasi di tingkat nasional.
Ia mengaku pernah berada di titik terendah, merasa diabaikan dan dipinggirkan oleh lingkungan. “Saya merasa dunia seperti tidak berpihak, bahkan sempat ingin menyerah, tapi saya sadar rasa takut tidak akan membuat hidup berkembang,” katanya, menegaskan bahwa luka bisa menjadi titik balik untuk bertumbuh.
Dari pengalaman pahit itu, Franco memilih untuk tidak diam dan bergabung sebagai bagian dari gerakan pelajar anti-bullying. “Saya tidak mau ada anak lain merasakan sakit yang sama, maka saya memilih berdiri dan membantu mereka menemukan keberanian,” jelasnya.
Sebagai anggota Pelajar Anti Bullying Indonesia Batch 5 NTT, Franco menekankan kunci utama untuk pulih adalah keberanian untuk memecah keheningan. Ia percaya bahwa berbicara kepada orang yang tepat adalah langkah pertama untuk menghentikan siklus kekerasan mental maupun verbal yang sering terjadi di lingkungan sekolah.
"Kamu tidak perlu berteriak di atas panggung; mungkin kamu hanya perlu berbisik dengan satu orang yang kamu percayai untuk menghentikan badai yang sedang kamu hadapi," ungkap Franco dalam wawancara bersama RRI Pro 2 Kupang.
Menurutnya, kasus bullying di kalangan pelajar saat ini tergolong serius dan sering kali tersembunyi. “Banyak korban memilih diam karena malu atau takut, padahal dampaknya sangat nyata, mulai dari menurunnya prestasi hingga gangguan mental,” ujarnya, mengingatkan bahwa masalah ini tidak boleh dianggap sepele.
Franco juga menekankan tiga kunci penting untuk melawan bullying, yaitu literasi, keberanian, dan komunitas. “Menulis dan bercerita bisa jadi jalan untuk pulih, lalu keberanian untuk membuka diri, dan menemukan lingkungan yang aman agar kita tidak merasa sendirian,” tuturnya.
Franco menjelaskan bahwa dampak perundungan sangat fatal jika dibiarkan, mulai dari penurunan prestasi akademik hingga gangguan jiwa yang permanen. Baginya, literasi menjadi salah satu senjata paling ampuh untuk menyembuhkan luka batin sekaligus mengedukasi masyarakat luas mengenai bahaya tindakan tersebut.
Melalui hobinya menulis puisi dan cerpen, ia menyalurkan emosinya menjadi karya produktif yang diakui secara nasional, termasuk menjadi Penulis Terbaik dalam lomba menulis surat cinta untuk orang tua. Ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa seorang korban perundungan mampu berdiri tegak dan memberikan dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.
Franco juga mengajak rekan-rekan sesama pelajar untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang paling aman dengan tidak menjadi penonton yang diam saat melihat ketidakadilan. Menurutnya, komunitas dan wadah yang tepat sangat diperlukan agar para korban merasa memiliki perlindungan dan dukungan emosional yang kuat.
Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan kuat bagi anak muda untuk berani bersuara dan menjadi ruang aman bagi sesama. “Kamu tidak harus berteriak di panggung, cukup berbisik kepada satu orang yang kamu percaya, itu sudah sangat berani,” pungkasnya, menutup dengan harapan bahwa satu suara kecil bisa menjadi awal perubahan besar. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....