Amon Tenis : Kreativitas Jadi Kunci Mengatasi Keterbatasan Pendidikan di Daerah
- 15 Apr 2026 15:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Sosok guru asal Amanatun Selatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Amon Barnabas Tenis, S.Pd., M.A., menjadi bukti nyata bahwa asal-usul seseorang bukanlah penghalang untuk mencapai puncak prestasi akademik internasional. Dalam wawancara bersama RRI Pro2 pada Senin, 13 April 2026, Amon menegaskan bahwa anak muda Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki kecerdasan dan ketangguhan yang sejajar dengan mahasiswa di luar NTT maupun luar negeri.
"Tidak penting dari mana kita lahir, tetapi yang terpenting adalah usaha apa yang kita lakukan untuk menjadi lebih baik," ucap guru bahasa Inggris ini kepada RRI. Amon menekankan bahwa pendidikan di NTT masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait infrastruktur dan fasilitas pendukung di daerah pelosok yang seringkali memprihatinkan.
Amon yang menyabet prestasi sebagai Best Presenter dan Best Paper dalam konferensi internasional di Bali pada November 2025 lalu menjelaskan, keterbatasan tersebut tidak boleh mematikan kreativitas dan kepercayaan diri para pengajar maupun siswa untuk terus berkompetisi di level global. "Kita boleh kekurangan fasilitas, tapi kita tidak boleh kekurangan ide kreatif untuk terus belajar dan membuktikan bahwa kualitas SDM kita mampu bersaing secara kompetitif," ujarnya penuh optimisme.
Meski demikian, Amon menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah atau merasa tertinggal. “Saya mau bilang bahwa kita ini bisa bersaing, hanya saja kadang kita kurang mendapat tempat dan dukungan fasilitas,” katanya.
Pengalaman pribadinya menjadi bukti bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih prestasi. “Saya berasal dari desa kecil di Amanuban Tengah, tetapi ketika berada di Jawa, saya bisa bersaing dengan mahasiswa di sana,” ucap Amon.
Ia juga mendorong generasi muda NTT untuk tidak takut bermimpi dan terus mengembangkan diri. “Jangan pernah putus asa, terus belajar dan percaya diri, karena kita juga bisa seperti mereka di luar sana,” katanya.
Selain itu, Amon mengajak para guru untuk tetap kreatif meski dalam keterbatasan. “Kita boleh kekurangan fasilitas, tetapi kita tidak boleh kekurangan ide. Gunakan apa yang ada di sekitar sebagai sumber belajar,” ucapnya.
Di akhir perbincangan, Amon menekankan bahwa peluang pendidikan kini semakin terbuka luas bagi anak muda NTT. “Sekarang banyak beasiswa yang bisa dimanfaatkan, tinggal bagaimana kita mau berjuang untuk meraihnya,” tuturnya.
Ia melihat banyak anak muda NTT yang masih merasa rendah diri dan terjebak dalam zona nyaman karena anggapan miring tentang ketertinggalan daerah. Padahal, dunia luar justru sangat mengagumi keunikan identitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat NTT jika dikemas secara ilmiah dan profesional.
Sebagai bentuk aksi nyata, Amon kini aktif membuka kelas belajar Bahasa Inggris gratis secara daring bagi anak-anak di kampung halamannya agar mereka tidak "kaget" saat melanjutkan studi ke kota besar. Ia percaya bahwa penguasaan bahasa dan rasa bangga terhadap identitas lokal adalah modal utama bagi generasi muda NTT untuk menembus beasiswa pendidikan tinggi yang kini peluangnya terbuka lebar.
Keinginannya untuk membangun perpustakaan di desa kelahirannya menjadi misi suci untuk mendekatkan literasi bagi anak-anak yang memiliki mimpi setinggi langit. Menyambut Hari Pendidikan Nasional, Amon menitipkan pesan khusus kepada pemerintah untuk lebih menyentuh sekolah-sekolah di pedalaman yang selama ini sulit dijangkau.
Ia berharap kurikulum masa depan mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi bahasa dan budaya daerah agar tidak punah tertelan zaman. (AK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....