Ketertinggalan Infrastruktur Nyaris Menepikan Harapan Regenerasi Masyarakat D
- 20 Mar 2026 11:43 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Sumba -Pada 19 Maret 2026, saat saya melakukan pemantauan progres pembangunan Koperasi Merah Putih di wilayah Tanah Righu. Saya berkesempatan mengunjungi salah satu kampung di desa Lolo tanah. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya melihat langsung perkembangan pembangunan sekaligus kondisi sosial masyarakat di sekitar wilayah ini. Dalam sela-sela kegiatan saya, saya lalu melakukan kunjungan ke salah satu kampung di Desa Lolo Tanah, Kecamatan Tanarighu, namanya kampung Pu,u Ritta.
Kampung yang dikunjungi bernama Pu’u Ritta ini jauh dari harapan kemajuan. Kampung ini memiliki jumlah penduduk yang cukup banyak, diperkirakan sekitar 30 kepala keluarga. Dari kampung tersebut, dengan berjalan sekitar 500 meter, terdapat sejumlah pemukiman warga lain yang masih termasuk masyarakat wilayah Desa Lolo Tanah.
Akses menuju Kampung Pu’u Ritta tergolong sulit. Jika ditempuh dari Desa Manukuku, jarak yang harus dilalui sekitar 3 hingga 4 kilometer dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. Di sekitar kampung ini hanya terdapat satu fasilitas umum berupa gedung gereja yang digunakan beribadah masyarakat setempat.
Dalam hal pendidikan, anak-anak di kampung ini menghadapi tantangan besar. Untuk bersekolah di SD Inpres Lolo Tanah, mereka harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer. Sementara untuk tingkat SMP, jarak yang ditempuh mencapai sekitar 7 kilometer, dan untuk SMA bahkan mencapai belasan kilometer dari kampung mereka.
Kondisi jalan yang rusak parah membuat aktivitas pendidikan menjadi tidak optimal. Setiap hari, anak-anak harus melewati jalan pengerasan yang sudah mengalami kerusakan ekstrem. Sebagian dari mereka berjalan kaki, sementara yang menggunakan kendaraan bermotor pun harus menghadapi perjalanan panjang dan sulit. Akibatnya, proses belajar menjadi terganggu dan kendaraan yang digunakan cepat mengalami kerusakan.
Mayoritas masyarakat di Kampung Pu’u Ritta menggantungkan hidup pada sektor pertanian, dengan komoditas utama berupa jambu mete dan hasil pertanian lainnya. Untuk menjual hasil panen, mereka harus memikul barang dagangan sejauh 3 hingga 4 kilometer hingga mencapai jalan yang bisa dilalui kendaraan untuk menuju pasar. Kondisi ini tentu sangat menyulitkan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil atau warga yang sedang sakit.
Kondisi infrastruktur yang tertinggal, mulai dari jalan, listrik, hingga akses air bersih, menunjukkan minimnya kehadiran negara di wilayah tersebut. Saat musim hujan, akses transportasi bahkan hampir terputus total. Masyarakat berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur dan membuka akses yang lebih layak, agar generasi muda di Kampung Pu’u Ritta dapat menikmati pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. (Jl)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....