Komunitas Oase Cendekia Soroti Tradisi Kearifan Adat Jadi Solusi Krisis Ekologi
- 17 Mar 2026 12:38 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Krisis ekologi modern sering kali berakar dari cara pandang yang memisahkan manusia dengan alam, di mana lingkungan hanya dianggap sebagai objek eksploitasi demi keuntungan ekonomi semata. Menanggapi keresahan ini, Komunitas Oase Cendekia (OAC) hadir Selasa, 17 Maret 2026 di RRI Kupang untuk mengajak generasi muda menoleh kembali pada kearifan lokal sebagai solusi nyata menghadapi perubahan iklim global.
Membahas topik terkait “Kearifan Adat dan Krisis Ekologi” menjadi pintu masuk refleksi bahwa krisis lingkungan hari ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga krisis cara pandang manusia terhadap alam. Founder Komunitas Oase Cendekia, Petrus A. Gilaa, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat adat dalam menjaga lingkungan telah terbukti memberikan dampak signifikan terhadap keseimbangan ekologi.
“Pengetahuan masyarakat adat itu punya keterlibatan yang sangat signifikan, tetapi seringkali dilupakan oleh cara pandang modern yang memisahkan manusia dari alam,” ujarnya. Menurutnya, krisis ekologis yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, mulai dari kerusakan hutan hingga laut, dinilai tidak lepas dari paradigma eksploitasi yang mengakar dalam peradaban modern.
Senada dengan Petrus, Co-Founder Komunitas Oase Cendekia, Yogy H. Manu menyoroti bahwa hubungan manusia dan alam sejatinya bersifat timbal balik, bukan dominasi sepihak. “Relasi manusia dan lingkungan itu tidak bisa dipisahkan, keduanya saling membutuhkan dalam hubungan yang erat,” katanya.
Yogy mencontohkan studi kasus di wilayah pesisir seperti Rote Ndao, tantangan ekologis berupa kerusakan laut akibat pengeboman ikan kini mulai diatasi dengan merekonstruksi tradisi lama yang disebut Hoholok atau Pepada. Tradisi yang mulanya digunakan untuk menjaga hasil pertanian ini, kini dikonversi menjadi sistem pengawasan laut kolektif guna memastikan keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang.
"Masyarakat adat di Rote memulihkan tradisi Hoholok bukan sekadar aturan, tapi sebagai bentuk pemulihan relasi karena laut adalah ruang perjumpaan dan sumber kehidupan," jelas Calon Vikaris ini pada Pro2 Kupang. Sementara Co-Founder lainnya dalam komunitas ini, Rio Ricky Hermanus, mengungkapkan perjuangan menjaga alam juga terlihat nyata di daratan, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat adat di Kolhua melalui komunitas penjaga budaya Helong dalam mempertahankan ruang hidup mereka dari tekanan pembangunan.
Bagi masyarakat adat Kolhua, hutan bukan sekadar lahan kosong yang bisa diganti, melainkan sebuah identitas kultural yang menyediakan bahan pewarna alami untuk tenun dan menjadi rumah bagi leluhur mereka. "Hutan adalah rumah dan air adalah kehidupan; perlawanan masyarakat adat sebenarnya adalah upaya menjaga kedaulatan pengetahuan lokal agar tidak tergilas paradigma modern," tegas Rio.
Diskusi ini juga menyoroti pentingnya menghidupkan kembali tradisi sebagai bentuk perlawanan terhadap krisis pangan dan krisis identitas budaya. Sistem lumbung adat, pola tanam berbasis musim, hingga konsumsi pangan lokal seperti jagung dan sorgum menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu menjawab tantangan zaman jika tidak diabaikan.
Komunitas Oase Cendekia menyadari bahwa edukasi terhadap generasi Z dan Alpha menjadi kunci agar pengetahuan tradisional ini tidak dianggap sebagai hal mistis yang tertinggal, melainkan ilmu pengetahuan alternatif. Melalui rencana penyusunan modul pembelajaran ekologi lintas agama bagi siswa SMP dan SMA, mereka berupaya menanamkan kembali etika lingkungan yang berakar pada tanah kelahiran.
Selain advokasi di sekolah, komunitas ini juga menyoroti pentingnya kedaulatan pangan dengan mengkritisi standar gizi modern yang sering kali mengabaikan sumber pangan lokal seperti jagung bos dan sorgum. Dengan mengonsumsi apa yang tumbuh dari tanah sendiri, manusia NTT sebenarnya sedang merajut kembali "jejaring kehidupan" (web of life) yang sempat terputus oleh gaya hidup instan.
Sebagai penutup, komunitas Oase Cendekia mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam isu lingkungan, tetapi terlibat aktif melalui edukasi dan aksi nyata. “Pulanglah dan pelajari bagaimana orang tua kita hidup berdampingan dengan alam, karena di sanalah kita menemukan kembali cara menjaga kehidupan,” tutup Petrus, menegaskan bahwa masa depan ekologi terletak pada keberanian kembali belajar dari tradisi. (AK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....