Menikmati Alam tanpa Merusak, Etika Anak Muda Sadar Lingkungan
- 01 Mar 2026 21:41 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Kesadaran generasi muda dalam menjaga kebersihan destinasi wisata di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan ekosistem alam. Sebagai Leader WCDI NTT sekaligus seorang guru, Marlin Fransiska Ndaong dalam wawancara bersama RRI pada, Sabtu, 28 Februari 2026, menekankan bahwa pola pikir yang hanya mencari keuntungan estetika tanpa memedulikan dampak lingkungan harus segera diubah.
Hal ini turut dibuktikan dengan aksi nyata yang ditunjukkan oleh komunitas WCDI NTT melalui kegiatan clean up di Pantai Nunbaun Delila pada peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026, Sabtu, 21 Februari 2026. Sebanyak 50 partisipan, termasuk warga lokal dan pemerintah kelurahan, berhasil mengumpulkan 35 kantong plastik besar dan beberapa karung sampah dari area yang selama ini jarang terjamah aksi pembersihan.
Marlin mengungkapkan ketersediaan sarana prasarana seperti tempat sampah di berbagai pantai Kota Kupang memang belum merata dan memadai. Namun, ia menegaskan bahwa faktor utama dari masalah sampah yang menumpuk di lokasi viral adalah rendahnya kesadaran individu para pengunjung.
"Sesederhana membawa pulang kembali apa yang kita bawa. Jika tidak ada tempat sampah terdekat, bawalah sampah itu pulang ke rumah untuk dibuang di TPS yang tepat," ujar Marlin Fransiska Ndaong saat diwawancarai. Tren wisata berbasis konten media sosial turut memperburuk kondisi ini karena lonjakan pengunjung sering kali tidak dibarengi dengan etika zero waste traveling.
Menurutnya, menikmati alam berarti menyadari bahwa keindahan pantai adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga bersama. “Kita boleh menikmati alam, tetapi harus dengan tanggung jawab, bukan merusaknya,” ujarnya, seraya mengajak generasi muda menerapkan prinsip zero waste traveling dengan membawa kembali sampah masing-masing.
Marlin mengkhawatirkan jika perilaku ini terus berlanjut, ekosistem laut akan rusak dan berdampak langsung pada kualitas pangan masyarakat NTT di masa depan. "Kekhawatiran terbesar saya adalah kita tidak bisa lagi makan ikan yang sehat, karena sampah yang kita buang ke pantai akan terbawa ke laut dan dikonsumsi oleh biota laut," katanya dengan nada serius.
Guru SDH Kupang ini mengingatkan dampak sampah tidak berhenti pada estetika wisata, tetapi bisa merusak ekosistem laut dan mengancam sumber pangan masyarakat. “Kekhawatiran terbesar saya, suatu hari nanti kita tidak lagi bisa menikmati ikan yang sehat karena laut kita tercemar,” katanya, dengan harapan agar anak muda Kupang semakin sadar bahwa menjaga alam hari ini adalah investasi bagi masa depan.
Sebagai penutup, Marlin mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari instansi pemerintah, pihak kampus, hingga komunitas lintas agama, untuk berkolaborasi menjaga alam. Menikmati keindahan alam NTT adalah anugerah Tuhan yang harus dibarengi dengan tanggung jawab penuh agar tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang. (AK)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....