Mengenal Li’Ana Atuk Bijael, Istilah bagi Anak yang Tidak Bersekolah

  • 18 Feb 2026 14:55 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Masyarakat di pedalaman Pulau Timor mengenal istilah "Li’Ana Atuk Bijael" sebagai frasa yang merujuk pada beban sosial yang mendalam bagi anak-anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Anak-anak yang tidak bersekolah sering kali diidentikkan dengan penggembala ternak sapi atau bahkan anak yang tidak terurus.

Dalam program "Obrolan Budaya" di RRI Kupang, Senin, 16 Februari 2026, Frederikus Suni, Pendiri platform literasi TAFENPAH, membedah fenomena ini sebagai cermin tantangan pendidikan yang masih nyata di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Menurutnya, penyematan istilah ini muncul karena perbedaan mencolok antara anak sekolah dan mereka yang memilih tinggal di rumah atau di ladang.

"Anak Li’Ana Atuk Bijael identik dengan penampilan yang kurang terurus, tingkat pemahaman yang berbeda, serta hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sosial di bangku pendidikan formal," ujarnya.

Meski di wilayah perkotaan istilah ini mulai dianggap usang, di pelosok desa seperti Desa Haumeni (perbatasan Timor Tengah Utara dan Distrik Ambenu, Timor Leste), istilah ini masih relevan sebagai pengingat akan nasib anak-anak yang terputus akses pendidikannya. Frederikus mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menyebabkan anak-anak di pelosok Timor kehilangan kesempatan bersekolah, diantaranya faktor ekonomi, karena banyak keluarga menengah ke bawah yang bergantung pada sektor pertanian dan peternakan dengan penghasilan tidak stabil, akibatnya, kebutuhan rumah tangga sering kali lebih diprioritaskan daripada investasi pendidikan.

Selain itu keterbatasan informasi, dimana walaupun pemerintah telah menyediakan sekolah gratis di perbatasan, informasi ini sering kali tidak sampai ke keluarga di pelosok karena keterbatasan perangkat komunikasi (gawai). Faktor lain adalah paradigma orang tua, yang masih menganggap bahwa menyekolahkan anak adalah pemborosan, terutama jika anak tersebut dianggap tidak akan membalas jasa di masa tua atau terjerumus dalam pergaulan bebas saat merantau untuk sekolah.

Faktor kenyamanan geografis juga turut berperan, dimana melimpahnya lahan dan ternak di pedesaan terkadang membuat anak merasa cukup dengan apa yang ada (warisan), sehingga motivasi untuk menempuh pendidikan formal menjadi rendah. Meski tantangan masih berat, Frederikus melihat adanya secercah harapan melalui "persaingan sehat" antarwarga.

Ketika satu keluarga melihat anak tetangganya sukses dan mendapatkan pekerjaan layak setelah kuliah, hal itu memicu kesadaran kolektif untuk mulai menyekolahkan anak-anak mereka. Ia menekankan bahwa pendidikan memang bukan satu-satunya jaminan kesuksesan, namun pendidikan adalah kunci untuk memperbesar peluang masa depan.

"Pesan saya, pendidikan memang tidak menjamin kesuksesan, namun melalui pendidikan kita bisa memperbesar kesempatan untuk mendapatkan apa yang kita cita-citakan," tutupnya. Melalui platform TAFENPAH, Frederikus berkomitmen untuk terus menyuarakan isu-isu sosial dan budaya agar anak-anak di perbatasan tidak lagi terjebak dalam label Li’Ana Atuk Bijael dan mampu meraih mimpi mereka. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....