Polisi Gendong Siswa Seberangi Sungai Wae Songka
- 29 Jan 2026 12:44 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Personel Kepolisian Sektor (Polsek) Kuwus turun langsung ke tengah sungai Wae Songka menjemput satu per satu siswa berpakaian Pramuka ,Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wetik dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Kuwus Barat, menggendong mereka di atas pundak agar seragam coklat para siswa tetap kering dan nyawa mereka tetap aman dari seretnya arus.
Kapolsek Kuwus, IPTU Arsilinus Lentar mengatakan kalau hujan turun di hulu, air sungai ini naik drastis. Kami tidak bisa membiarkan anak-anak kecil ini menyeberang sendirian. Arusnya sangat kuat dan membahayakan keselamatan mereka.
" Setiap harinya, sebanyak 11 siswa SD dan 10 siswa SMP dari Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar, harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai selebar 15 hingga 20 meter tersebut," ujar Kapolsek,Rabu (28/1/2026) pagi.
Menurutnya debit air yang bisa meningkat drastis dalam hitungan menit saat hujan turun menjadikannya jalur maut bagi anak-anak di bawah umur.
"Kami tidak bisa membiarkan anak-anak ini bertaruh nyawa setiap kali berangkat sekolah. Keselamatan mereka adalah prioritas utama. Melihat mereka harus menembus arus deras setinggi itu dengan beban tas di punggung sangatlah riskan," tuturnya.
Mendengar keresahan orang tua dan guru yang setiap hari diliputi rasa was-was, Polsek Kuwus mengambil langkah proaktif. Tidak hanya sekadar membantu menyeberangkan siswa, mereka berencana membangun jembatan darurat yang akan menghubungkan dua wilayah berbeda ini.
Jembatan ini nantinya akan menjadi urat nadi penghubung antara Kampung Lesem, Desa Golo Lajang, Kecamatan Pacar dan Desa Golo Riwu, Kecamatan Kuwus Barat.
"Rencana pembangunan jembatan darurat ini adalah respons kami atas masukan dari guru-guru dan warga. Kami melihat sendiri bagaimana setiap musim hujan, debit air meningkat drastis. Jembatan ini nantinya diperuntukkan khusus bagi anak sekolah dan masyarakat setempat agar aktivitas mereka tidak terputus meski cuaca buruk melanda," ungkap IPTU Arsilinus Lentar.
Kapolsek Kuwus juga menjelaskan pembangunan ini akan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dari dua desa tersebut.
Meskipun bersifat darurat, jembatan ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek agar 21 tunas bangsa tersebut tidak perlu lagi membasahi seragam coklat mereka sebelum sampai di kelas.
"Kami sudah berkoordinasi dengan warga dan tokoh masyarakat. Rencananya, kita akan membangun jembatan darurat secara swadaya menggunakan material lokal seperti batu, pasir, bambu dan kayu," jelasnya.
Bagi warga Kampung Lesem, kehadiran polisi di tengah sungai bukan sekadar bantuan fisik, melainkan simbol hadirnya negara di saat sulit.
Selama jembatan permanen belum berdiri, pundak-pundak tegap para polisi ini menjadi satu-satunya "jembatan" yang memastikan mimpi anak-anak Manggarai Barat tidak hanyut terbawa arus sungai.
Kini, rencana pembangunan jembatan darurat tersebut diharapkan dapat segera terealisasi melalui gotong royong, sebagai bukti bahwa batas wilayah kepolisian bukan penghalang untuk sebuah aksi kemanusiaan.(VFZ).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....