Membangun Kepekaan Dalam Peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia

  • 11 Sep 2024 00:07 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Setiap 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, menjadi hari peringatan bagi mereka yang kehilangan orang terkasih akibat bunuh diri, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

Dengan tema “Mengubah Narasi Tentang Bunuh Diri", peringatan ini pun pengingat untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya cara pandang baru terkait bunuh diri. Sekaligus panggilan untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi mereka yang membutuhkan bantuan.

Perubahan dari yang sebelumnya bungkam dan penuh stigma menjadi lebih terbuka, saling memahami, dan saling mendukung. Masyarakat juga didorong untuk terlibat dalam diskusi mengenai kesehatan mental dan kaitannya dengan bunuh diri sehingga pada akhirnya tercipta lingkungan yang mendukung pencegahan bunuh diri.

Psikolog Zerlinda C.A. Sanam, dalam keterangannya terkait peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia kepada RRI, Selasa (10/9/24), mengungkapkan dari data menunjukkan bahwa tren kasus bunuh diri di Indonesia telah meningkat secara signifikan. Misalnya, pada periode tahun 2024, jumlah kasus bunuh diri yang ditangani Polri mencapai 849 kejadian dan menempati urutan ke-4 dalam kategori jenis gangguan yang paling sering ditangani oleh polisi.

Ia berujar stigma lelucon kepada orang yang punya masalah mental health dapat muncul dari ketidaktahuan masyarakat terhadap kondisi yang sesungguhnya. Dengan mencari informasi yang tepat mengenai permasalahan kesehatan mental maka masyarakat dapat melatihkan empati untuk pada akhirnya melihat bahwa masalah kesehatan mental dapat terjadi pada siapa saja, bahkan pada diri kita sendiri. Sama halnya dengan sakit fisik, sangat wajar untuk mencari bantuan ketika sedang mengalami sakit dan pertolongan selalu ada.

“Beberapa faktor yang dapat menyebabkan tren ini dapat dilihat dari 2 sisi. Sisi yang pertama ialah dari karakteristik individu itu sendiri, misalnya seperti adanya riwayat permasalahan mental, riwayat sakit kronis, kemampuan regulasi emosi yang kurang baik, minim keterampilan penyelesaian masalah, atau ada riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri,” jelasnya.

Sisi lainnya yang dapat mempengaruhi ialah dari kondisi eksternal, misalnya seperti kemiskinan, terlilit pinjol dan judi online, menjadi korban bullying, pengalaman traumatis di masa lalu, atau ada mitos tertentu di lingkungannya (contohnya Pulung Gantung di Gunung Kidul).

Menurutnya, kecenderungan bunuh diri biasanya tidak dipengaruhi oleh salah satu dari beberapa faktor di atas. Dalam kenyataanya, beberapa faktor dapat saling terkait satu dengan yang lainnya. Permasalahan kesehatan mental yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah pada situasi yang fatal, yaitu bunuh diri.

“Terkadang permasalahan kesehatan mental masih tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat umum karena masih minimnya literasi kesehatan mental. Anggapan bahwa pergi psikolog atau psikiater menandakan bahwa orang tersebut gila, kurang beribadah, atau terkena guna- guna justru menyebabkan banyak orang dengan gangguan mental tidak mendapatkan penanganan yang tepat, yang pada akhirnya dapat berujung pada bunuh diri," katanya.

"Selain itu, pengabaian atau kepekaan yang kurang dalam mendeteksi tanda-tanda darurat juga menyebabkan kita seringkali baru bereaksi ketika situasi sudah tidak dapat tertolong,” ujarnya lebih lanjut.

Zerlinda merinci, upaya pencegahan bunuh diri yang efektif dan dapat diimplementasikan di tingkat individu maupun komunitas dimulai dari tingkat individu, upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan resiliensi pribadi misalnya seperti membangun relasi interpersonal yang positif dengan orang lain (teman,keluarga, kolega), meningkatkan spiritualitas, mengelola stres, serta memberikan afirmasi positif pada diri sendiri.

Kepekaan pribadi untuk mendeteksi permasalahan kesehatan mental pada diri serta mencari bantuan profesional juga dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan. Pada tingkat komunitas, perlu adanya sinergi bersama dari semua unsur sehingga tercipta lingkungan yang mendukung pencegahan bunuh diri.

“Peningkatan literasi kesehatan mental, pelatihan pertolongan pertama psikologis di setiap komunitas yang relevan, misalnya ditujukan untuk guru di lingkungan sekolah/anggota gereja/tendik di kampus, serta kemudahan akses layanan bantuan tentunya dapat mendukung hal ini,” ungkapnya.

Hingga sampai saat ini pemerintah Indonesia telah mengembangkan program-program untuk meningkatkan literasi kesehatan mental misalnya seperti meluncurkan Buku pedoman pencegahan dan penanganan bunuh diri dari Kementerian Kesehatan RI. Selain itu beberapa organisasi kesehatan, salah satunya HIMPSI (Himpunan Psikologi) NTT juga telah berpartisipasi dalam melakukan kampanye kesadaran tentang tanda-tanda peringatan bunuh diri dan pentingnya mengakses layanan kesehatan mental.

Untuk memperingati bulan kesehatan mental (10 September) tahun ini, HIMPSI NTT juga telah menyiapkan rangkaian kegiatan misalnya seperti HIMPSI Goes to School dalam rangka kampanye kesehatan mental serta membuka layanan konseling gratis.

Dan pesan yang diberikannya untuk seseorang yang sedang berjuang dengan pikiran untuk bunuh diri, merasa takut atau enggan untuk berbicara kepada orang lain atau professional adalah dengan menyadarkan bahwa selalu ada bantuan dan selalu ada harapan.

“Izinkan saya mengutip dialog dari salah satu drama Korea favorit saya berjudul Lovely Runner: Terima kasih karena tetap hidup. Hiduplah karena hidup itu indah. Cobalah untuk hidup sehari lagi sambil menunggu hujan berhenti. Jika kamu terus begini, mungkin akan datang hari saat hidup tidak tampak begitu menyedihkan. Terima kasih karena tetap hidup. Orang-orang tersayang di sekitarmu pasti lega dan bersyukur karena kamu masih bersama mereka”. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....