Komunitas Rumah SARA Telusuri Filosofi Penamaan Tempat sebagai Sejarah Lokal Ama
- 05 Okt 2026 21:43 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pengetahuan sejarah lokal dan identitas warisan leluhur di wilayah Amanuban, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dinilai mulai terputus pada generasi muda. Hal tersebut dikatakan Founder Komunitas Rumah SARA, Defri N. Sae dalam dialog Obrolan Budaya Pro 4 RRI Kupang, Jumat, 2 Oktober 2026.
Defri mengatakan, Banyak nama kampung, sungai, batu, hingga mata air terus disebut dalam kehidupan sehari-hari, namun kandungan filosofi serta sejarah di balik penamaannya tidak lagi diketahui. Keresahan inilah yang mendorong Komunitas Rumah SARA menginisiasi riset dan pendokumentasian sejarah lisan di Amanuban.
“Keresahan sudah sangat lama. Ada sebuah perenungan panjang bahwasanya pengetahuan sejarah lokal atau identitas dan warisan leluhur kita itu di Amanuban di sana pengetahuan kolektif atau warisan leluhur itu sudah terputus,” katanya.
Defri, menjelaskan bahwa gerakan riset yang dipusatkan di Desa Napi, Kecamatan Kie, melibatkan secara langsung pelajar tingkat SMP dan SMA. Para anak muda diajak untuk mewawancarai tokoh adat dan tetua di kampung mengenai asal-usul nama tempat di sekitar mereka. Langkah ini dilakukan guna memindahkan tradisi tutur lisan ke dalam naskah tertulis agar generasi penerus memiliki rasa percaya diri atas kekayaan warisan budaya leluhurnya.
“Kemudian kami lakukan riset ini dengan ee adik-adik yang masih SMA, SMP. Lalu kita berusaha untuk bagaimana mereka yang mewawancara sendiri tentang nama air, nama kampung. Selain cerita atau tutur lisan, agar besok-besok anak-anak di kampung harus percaya diri bahwa mereka punya kekayaan,” jelasnya.
Defri menjelaskan, dalam konteks masyarakat sub-etnis Atoni di Amanuban, penamaan tempat berakar kuat pada pandangan kosmologi alamiah. Penamaan elemen alam sering menggunakan prefiks khusus seperti "Oe" untuk air, "Hau" untuk pohon, atau "Fatu" untuk batu.
Masyarakat terdahulu menganggap alam semesta sebagai bagian dari tubuh manusia, air dianggap sebagai darah, batu sebagai tulang, dan pohon sebagai rambut, sehingga penamaan tempat adalah bentuk lain dari penyebutan tubuh yang wajib dijaga keasriannya.
Defri menambahkan melalui gerakan literasi dan riset lokal ini, Komunitas Rumah SARA berharap generasi muda tidak hanya mahir secara akademis, tetapi juga menguasai bahasa ibu dan memahami identitas sejarah tempat tinggalnya. Upaya ini diharapkan dapat terus berlanjut secara swadaya agar sejarah lisan di Timor Tengah Selatan tidak hilang tergerus zaman dan perubahan tata ruang modern.
“Sejatinya orang Atoni ini, ketika mempelajari tentang identitas kita, yang paling pertama adalah mengetahui bahasa ibu dan yang kedua harus melakukan riset mendalam biar generasi penerus tahu tentang identitas kita sendiri,”harapnya. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....