Manatika, Warisan Budaya TTU Sarat Nilai Filosofis
- 21 Sep 2026 09:05 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Olahraga tradisional Manatika dari Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tidak hanya menjadi aktivitas fisik semata, melainkan sarana perekat ikatan sosial serta prosesi adat penyelesaian sengketa di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Akademisi dan Peneliti Budaya, Florianus Aloysius Nay, S.Pd., M.Pd saat menjadi narasumber dalam program acara Obrolan Budaya Pro 4 RRI Kupang, Selasa, 25 Agustus 2026 malam.
Florianus yang biasa disapa Flo mengatakan, Nusa Tenggara Timur memiliki kekayaan identitas budaya yang sangat potensial untuk dipromosikan hingga tingkat internasional. Dalam tradisi masyarakat TTU, Manatika hadir sebagai penutup rangkaian tradisi duka atau kegembiraan pesta panen yang kaya akan nilai filosofis.
"Posisi bertanding yang saling membelakangi dalam Manatika memiliki makna mendalam. Masyarakat TTU percaya bahwa sebuah persoalan atau konflik tidak harus diumbar ke permukaan umum, melainkan cukup diselesaikan di belakang secara kekeluargaan dan sportif," katanya.
Selain itu, Florianus menjelaskan bahwa pelaksanaan Manatika terus didorong melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan tokoh adat. Salah satunya melalui penyelenggaraan festival budaya daerah yang mengombinasikan atraksi Manatika dengan tarian adat Bonet.
Ia berharap Manatika tidak sekadar menjadi tontonan saat peringatan HUT Kota Kefamenanu atau HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga dapat dirumuskan standar penilaiannya bersama lembaga olahraga resmi. Upaya ini dilakukan agar Manatika dapat didaftarkan sebagai cabang olahraga tradisional resmi di tingkat nasional hingga internasional.
Ia juga menambahkan melalui promosi yang berkelanjutan serta pembuatan media pembelajaran di sekolah, generasi muda diharapkan dapat menjadi corong utama dalam menjaga kelestarian budaya daerah. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....