Aloi'Nekaf Rekam Kearifan Lokal Timor dalam Album Perdana
- 21 Sep 2026 09:21 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang – Grup musik etnik kontemporer Aloi'Nekaf membagikan kisah di balik pembuatan lagu perdana mereka berjudul "Lais Manekat Kanamnes" dalam siaran Obrolan Budaya di Pro 4 RRI Kupang, Kamis, 17 September 2026. Karya tersebut mengusung pesan perdamaian, toleransi, dan rasa saling menghargai antarsesama manusia.
"Lais Manekat Kanamnes artinya 'Kasih Tak Sama'.
Lagu ini bercerita tentang pentingnya menahan diri dan saling menghormati. Walaupun kita berbeda warna kulit, latar belakang, maupun jenis kelamin, di mata Sang Pencipta kita semua adalah sama," ungkap vokalis Aloi'Nekaf, Niken.
Niken mengungkapkan, bahwa proses penggarapan lagu "Lais Manekat Kanamnes" memakan waktu hingga satu tahun karena membutuhkan eksplorasi aransemen yang matang untuk menyatukan warna musik tradisional Timor dengan sentuhan modern.
Niken menambahkan, generasi muda di Nusa Tenggara Timur diajak untuk tidak ragu mengekspresikan dan melestarikan kekayaan budaya lokal di tengah gempuran tren musik modern saat ini.
“Merawat tradisi itu berawal dari niat dan rasa cinta terhadap warisan leluhur. Kalau bukan kita anak muda yang menjaga dan mengenalkan budaya sendiri, siapa lagi yang akan meneruskannya,” ujar Niken.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar musisi tradisi saat ini adalah menyelaraskan nilai-nilai adat yang sakral dengan aransemen yang disukai pendengar masa kini. Menurutnya, inovasi musik menjadi jembatan penting agar budaya tidak hanya sekadar menjadi cerita masa lalu.
“Selain lewat instrumen dan bahasa daerah, kami juga konsisten mengenakan kain tenun ikat khas Timor setiap kali tampil di atas panggung. Ini cara sederhana kami untuk mengenalkan keindahan tenun NTT ke khalayak luas,” kata Niken.
Gitaris Aloi'nekaf, Ezra, menambahkan bahwa proses penggabungan instrumen musik modern dengan instrumen etnik tradisional seperti Bijol memerlukan kepekaan dan proses penyesuaian yang cukup panjang.
“Bermain instrumen tradisional seperti Bijol tidak menggunakan fret layaknya gitar modern, sehingga sangat mengandalkan perasaan (feeling) dan keharmonisan antarpersonil. Namun justru di situlah keunikan dan keindahan musik tradisi,” kata Ezra.
Grup Aloi'nekaf berharap kehadiran karya-karya musik etnik bernuansa daerah dapat memotivasi musisi-musisi muda lain di NTT untuk bangga mengangkat identitas kedaerahan mereka. Mereka optimistis musik tradisi mampu bersaing dan bersanding dengan genre musik modern di panggung nasional maupun internasional. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....