Sastra Penjaga Identitas : Wabup Thimo Ragga Buka Festival Sastra Sumba 2026

  • 23 Agt 2026 21:52 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Sumba – Kekayaan budaya bukan saja tampak pada tenun, bangunan adat atau upacara besar—tetapi tersimpan hidup di setiap tuturan, syair, petuah leluhur dan tradisi lisan yang mengalir dari mulut‑ke‑mulut sejak turun‑temurun. Kini “perpustakaan hidup” itu kembali dihidupkan, ditulis ulang dan dikembangkan saat Wakil Bupati Sumba Barat, Thimotius Tede Ragga, S.Sos., secara resmi membuka Festival Sastra Sumba 2026 sekaligus Lokakarya Penulisan Puisi Berbasis Tradisi Lisan Sumba di Waikabubak, Jumat (21/8/2026).

Rangkaian kegiatan yang digagas Komunitas Seni Sastra Budaya Sumba (SSBS) ini menjadi pertemuan istimewa—menghimpun penyair, sastrawan, pendidik, pelajar, penggiat budaya dari seluruh penjuru pulau untuk menggali kembali akar kearifan lokal, menuangkannya ke dalam karya tulis demi menjaga agar suara leluhur tak hilang tergerus waktu. Dukungan penuh pemerintah menegaskan: sastra bukan sekadar hobi atau seni belaka, melainkan roh yang menjaga identitas sekaligus jati diri orang Sumba.

Dalam arahannya, Wakil Bupati menekankan bahwa ilmu pengetahuan, iman, nilai sastra dan warisan leluhur menyatu membentuk watak bangsa maupun masyarakat—termasuk semangat “Huba Haru”, gambaran indah tentang bumi beserta seluruh penduduknya, serta ungkapan sakti “Ngongu Mori Huba, Madapu Mori Tana” yang mengingatkan kita bahwa tanah ini dan segala isinya berada di bawah naungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tradisi lisan—mulai cerita rakyat, syair adat hingga ungkapan bijak—adalah gudang ingatan tentang asal‑usul, hubungan manusia dengan alam, sesama dan Pencipta yang wajib dijaga, direkam serta diteruskan.

“Ketika kita merangkai puisi atau tulisan dari sumber‑sumber itu, kita tak sekadar berkarya—kita sedang menyelamatkan warisan, merawat bahasa, mencatat sejarah yang tak tertulis dan memastikan identitas kita tetap teguh berdiri,” ujar Thimo Ragga. Ia mencontohkan tradisi Nyale, Pasola, Wulla Poddu penuh makna persaudaraan, penghormatan lingkungan, keberanian dan kerendahan hati—bahan emas tak ternilai yang siap dijadikan sumber inspirasi tak habis‑habisnya bagi siapa saja yang berkarya.

Festival ini juga menegaskan visi baru: sastra dan budaya adalah kekuatan nyata pembangunan daerah. Tak cukup hanya dijadikan atraksi tahunan atau tontonan wisata—warisan ini harus masuk ke ruang kelas, buku, media digital, dikembangkan menjadi karya yang hidup, sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata. Wisatawan datang bukan hanya melihat pantai atau bukit indah—mereka mencari cerita, makna, jiwa dan keunikan budaya yang hanya dimiliki Sumba.

Dengan terselenggaranya Festival Sastra Sumba 2026, Sumba Barat membuktikan komitmen melestarikan sekaligus mengembangkan warisan menjadi modal masa depan—menghubungkan masa lalu yang kaya nilai, masa kini yang berkarya penuh semangat, hingga masa depan yang tetap bangga berkata: “Inilah akar kami, inilah suara kami yang tak akan pernah lenyap selama sastra terus kita tulis dan kita lestarikan.” (YL)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....