Tradisi Tionghoa Memaknai Pecah Semangka saat Pelepasan Jenazah

  • 12 Agt 2026 11:55 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Tradisi pecah atau banting semangka dalam adat Tionghoa umumnya dilakukan ketika prosesi pelepasan jenazah berlangsung sebelum almarhum dibawa menuju tempat pemakaman atau krematorium. Ritual tersebut memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan terakhir, sekaligus melambangkan putusnya ikatan duniawi dan pembersihan jalan bagi perjalanan roh almarhum.

Dalam kepercayaan yang berkembang di masyarakat, pecahnya semangka menjadi simbol berakhirnya berbagai urusan duniawi yang masih melekat pada kehidupan seseorang. Prosesi tersebut juga dimaknai sebagai harapan keluarga agar perjalanan terakhir almarhum berlangsung dengan tenang, lancar, serta mendapatkan penghormatan sebagaimana mestinya.

Tradisi ini dalam kisah yang berkembang dikaitkan dengan legenda Kaisar Li Shi Min dari Dinasti Tang yang disebut pernah mengalami mati suri. Dalam legenda tersebut, pengalaman Kaisar Li Shi Min ketika melihat kondisi alam baka kemudian dikaitkan dengan pemaknaan perjalanan manusia setelah meninggalkan kehidupan dunia.

Semangka yang dibanting hingga pecah menggambarkan kehidupan manusia yang dianggap rapuh dan sementara seperti buah tersebut. Pecahnya semangka kemudian menjadi simbol penutup lembaran kehidupan seseorang sekaligus tanda bahwa perjalanan hidupnya di dunia telah berakhir.

Pelaksanaan ritual biasanya dilakukan tepat di depan mobil jenazah atau sekitar gerbang rumah duka sebelum rombongan meninggalkan lokasi. Waktu pelaksanaan tersebut menjadi bagian penting karena ritual dilakukan menjelang perjalanan jenazah menuju tempat pemakaman atau krematorium.

Dalam prosesi tersebut, anggota keluarga maupun petugas dukacita dapat membanting buah semangka hingga pecah berkeping-keping di jalan. Tindakan itu secara simbolis mengisyaratkan bahwa jalan di depan telah terbuka sehingga perjalanan terakhir almarhum dapat berlangsung tanpa hambatan.

Pecahnya semangka juga dipahami sebagai simbol pelepasan keluarga terhadap orang yang telah meninggal setelah seluruh tanggung jawab kehidupan duniawinya dianggap selesai. Ritual tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan terakhir yang menyimpan pesan tentang keikhlasan, perpisahan, serta penerimaan terhadap perjalanan kehidupan manusia.

Meski demikian, tata cara dan pemaknaan tradisi pecah semangka dapat berbeda berdasarkan keluarga, daerah, serta kelompok masyarakat Tionghoa yang menjalankannya. Tradisi tersebut karena itu perlu dipahami sebagai bagian dari keragaman budaya dan simbol penghormatan terhadap seseorang yang telah meninggalkan kehidupan dunia. (AN)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....