Ekoteologi Marapu Perkuat Kesadaran Ekologis Berbasis Kearifan Lokal Sumba

  • 16 Jul 2026 12:44 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Kepercayaan Marapu di Tanah Sumba dinilai menyimpan kebijaksanaan ekologis mendalam yang dapat berfungsi sebagai "alarm hidup" dalam menghadapi ancaman krisis iklim global. Perspektif teologi kebumian dan pelestarian alam tersebut dikemas secara komprehensif lewat sebuah buku ekoteologi Marapu yang siap diterbitkan.

Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana sekaligus Peneliti, Paulina M.Y. Kosat, S.Pd., M.Hum., mengungkapkan bahwa krisis iklim saat ini tidak hanya mengancam mata pencaharian dan ekonomi, melainkan juga merusak tatanan kebudayaan, hilangnya material adat, hingga punahnya ruang hidup masyarakat adat. Fenomena alam seperti hama belalang hingga kebakaran rumah adat akibat petir dipandang masyarakat sebagai sanksi akibat ketidakmampuan manusia menjaga alam.

“Kepercayaan Marapu menyimpan kebijaksanaan ekologi yang sangat dibutuhkan sebagai alarm yang hidup. Sebelum terlambat, mari kita sama-sama mendengarkan alarm itu sebagai pengingat bahwa manusia bukan apa-apa tanpa alam dan tanpa leluhur,” tegas Jovin saat berdialog di RRI Kupang.

Jovin menguraikan, wujud nyata proses cinta alam versi Marapu terekam melalui berbagai ritual adat perlindungan lingkungan, seperti Wulapodu (bulan suci/pahit) yang melarang aktivitas perusakan hutan, serta upacara Bijai Lungu Hyupaana untuk perlindungan pertanian.

Aturan adat ini bahkan ditaati secara ketat oleh masyarakat modern di pusat kota lewat pemberlakuan sanksi atau denda adat yang berat bagi para pelanggar.

“Upacara ini itu sangat dihargai sekali oleh masyarakat yang punya kepercayaan modern. Kenapa demikian? Karena ini sebenarnya adalah salah satu alarm yang sangat ee kuat untuk masyarakat ee Marapu yang harus diikuti oleh masyarakat Sumba pada umumnya,” kata Jovin.

Melalui buku ekoteologi Marapu ini, diharapkan kesadaran ekologis berbasis kearifan lokal Sumba dapat diadaptasi lebih luas.

Jovin menegaskan bahwa pendekatan adat dan teologi kebumian memiliki kontribusi besar dalam merumuskan kebijakan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan demi menjaga keseimbangan ekosistem masa depan. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....