Tarian Ledo, Warisan Budaya Sabu yang Sarat Makna dan Filosofi

  • 26 Mei 2026 10:02 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID,Kupang-Tarian tradisional merupakan rekam jejak sejarah yang mengakar kuat sebagai identitas suatu bangsa. Bagi masyarakat Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tarian Ledo adalah simbol kebanggaan dan jati diri budaya yang tidak tergerus waktu.

Dalam program "Obrolan Budaya" Pro 4 RRI Kupang, Selasa, 12 Mei 2026, Pemerhati Budaya Sabu, Thomas Koro Magga, menyoroti makna, sejarah, hingga tantangan pelestarian Tarian Ledo di era modern. Menurutnya, secara harfiah Ledo berarti meloncat-loncat kegirangan, dimana tarian ini lahir dari luapan kegembiraan (eforia) masyarakat zaman dahulu atas kemenangan dalam sebuah peperangan saudara, khususnya perang antara pihak Maja Jakawai dan Mono yang dimenangkan oleh Maja.

"Ledo juga disebut Keret Yamuhu, yang artinya meloncat-loncat kegirangan di depan musuh. Gerakan dan iramanya memperagakan situasi perang, lengkap dengan atribut seperti pedang," ujarnya.

Meski bermula sebagai tarian kemenangan perang, dalam perkembangannya Tarian Ledo memegang peranan sakral dalam upacara kematian atau syukuran adat yang disebut Tauleo. Dalam ritual tersebut, Tarian Ledo berfungsi sebagai bentuk pengukuhan atau "kanonisasi" bagi arwah para pahlawan atau leluhur yang telah gugur agar dinobatkan sebagai sosok yang kudus.

Tarian Ledo dipentaskan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan, dengan jumlah minimal tiga pasang. Keterlibatan perempuan dalam tarian perang ini membawa filosofi mendalam mengenai kesetaraan dan penghormatan.

Thomas menjelaskan bahwa tarian ini dibagi menjadi dua bagian utama, dimana bagian pertama merupakan lantunan syair yang diawali dengan menyanyikan lagu. Dahulu, masyarakat menyanyikan lagu keramat bernama Ngararai untuk mengenang generasi awal leluhur Sabu, namun, karena adanya pergeseran tata krama dan ketakutan akan tabu salah ucap yang dipercaya bisa memakan korban, lagu tersebut kini diganti dengan Namelole (artinya dicari, dikenang, dan diceritakan) yang menggunakan nama-nama kiasan kesayangan.

Sementara pada bagian adalah puncak tarian yang ditandai dengan tabuhan gong dan tambur dan terdiri dari tiga adegan, dimulai dari Pekalen Ada (mengatur formasi barisan), gerakan cepat kaki (Gihi), hingga adegan Pejuru. Pada adegan Pejuru, penari laki-laki memperagakan gerakan memotong dan menusuk dengan pedang untuk memancing amarah lawan.

Menariknya, ketegangan dalam adegan perang ini akan langsung mereda saat penari perempuan masuk ke tengah arena. "Ketika perempuan masuk ke dalam arena, seluruh ketegangan itu hilang, diredakan oleh kehadiran perempuan. Ini adalah bentuk penghormatan luar biasa bagi kaum perempuan di Sabu," tegasnya.

Adapun kelengkapan busana dalam Tarian Ledo tidak boleh sembarangan karena mengusung simbol langit dan bumi. Bagi penari laki-laki wajib mengenakan Destar (ikat kepala) sebagai lambang otoritas, kain warna merah di leher sebagai simbol keberanian seorang pendekar, serta hiasan Hoga (lambang matahari) dan Lado (lambang bulan dan bintang). Di bagian betis, dipasang giring-giring yang bunyinya harus padu dengan ketukan pemusik.

Sementata untuk penari perempuan mengenakan kain tenun bermotif khas (seperti motif Wapi) yang dipasang sebatas dada tanpa kebaya. Di kepala, mereka mengenakan Habas yang melambangkan mahkota penghargaan serta simbol berkerudungkan matahari.

Saat ini, Tarian Ledo telah dibuka untuk pertunjukan umum, seperti penyambutan tamu kenegaraan maupun ajang perlombaan budaya. Kendati disambut baik oleh masyarakat, Thomas menyoroti adanya pergeseran nilai filosofis, di mana tarian kini lebih menonjolkan aspek hiburan dan ekonomi daripada kesakralan adat, masalah kedisiplinan pakem gerakan, seperti aturan ketinggian angkatan kaki yang mulai pudar, juga menjadi catatan penting.

Sebagai seorang pemerhati budaya Sabu, Thomas Koro Magga menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah dan pemangku adat untuk terus menjaga keaslian pakem Tarian Ledo. Ia mendorong agar seni budaya ini kembali dimasukkan ke dalam kurikulum Muatan Lokal (Mulok) di sekolah-sekolah agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya, selain itu, ia juga berharap pemerintah daerah segera menindaklanjutilah usulan agar Tarian Ledo secara resmi didaftarkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke kementerian terkait. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....