Generasi Muda NTT Mulai Rasionalisasi Tradisi Belis Perkawinan

  • 25 Mei 2026 11:27 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Modernisasi tidak selamanya mengancam keberadaan kebudayaan tradisional. Di Nusa Tenggara Timur, generasi muda mulai mengambil peran positif sebagai pengubah perspektif kebudayaan lewat rasionalisasi tradisi mahar perkawinan atau belis, guna menyesuaikan dengan realitas ekonomi saat ini tanpa merusak nilai esensialnya.

“Yang positif itu adalah anak-anak Gen Z dan Gen Alfa sudah mulai mengadaptasikan tentang belis. Jadi kalau memang tidak mampu menyediakan 40 ekor kerbau atau 20 ekor sapi, jumlah itu sekarang bisa dikurangi dan disesuaikan agar lebih masuk akal bagi kehidupan baru mereka,” kata Penulis dan Pemerhati Budaya, E. Nong Yonson dalam dialog bersama Pro 4 RRI Kupang, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut Yonson, penyesuaian ini sangat krusial mengingat tingginya beban finansial belis di era sekarang, di mana harga komoditas adat seperti gading gajah, kerbau, dan sapi melonjak drastis hingga ratusan juta rupiah. Tekanan adat yang terlalu berat bahkan kerap memicu dampak psikologis negatif yang fatal bagi pasangan muda di beberapa daerah.

“Langkah anak muda untuk mengubah perspektif ini agar lebih masuk akal adalah hal yang cerdas. Modernisasi itu memberi warna yang berbeda tetapi tidak menghilangkan nilai internal budaya itu sendiri,” ujarnya.

Nong Yonson mengimbau agar masyarakat dan generasi muda tidak takut berinovasi dalam mengadaptasikan tradisi di tengah perkembangan zaman. Namun, ia mengingatkan agar inovasi tersebut hanya menyentuh aspek eksternal yang bersifat administratif atau teknis, sementara substansi dan nilai-nilai luhur budaya tetap dijaga erat sebagai penunjuk arah moral kehidupan. (Daten)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....