Pakaian Adat Miliki Makna Sakral dan Aturan Penggunaan
- 25 Mei 2026 11:19 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Maraknya fenomena generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alfa di Nusa Tenggara Timur yang mengenakan pakaian adat tradisional namun dipadukan dengan gerakan tari modern yang vulgar di media sosial memicu keprihatinan mendalam dari para pemerhati kebudayaan. Pergeseran ini dinilai bukan lagi bentuk kolaborasi melainkan bentuk penurunan marwah budaya.
“Sekarang ini kita sedang ada pada fenomena anak-anak Gen Z dan Gen Alfa mengenakan pakaian adat tetapi tariannya tarian TikTok yang sangat vulgar. Kita tidak bisa mengatakan bahwa anak itu sedang mengolaborasikan antara tradisi dan modern, karena itu justru seperti candaan budaya. Budaya pada dasarnya tidak boleh menjadi bagian candaan dalam hidup,” kata Penulis sekaligus Praktisi dan Pemerhati Budaya NTT, E. Nong Yonson saat diwawancarai Pro 4 RRI Kupang dalam Obrolan Budaya, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menjelaskan, setiap simbol yang tertera pada kain tenun dan pakaian adat memiliki makna mendalam serta aturan penggunaan yang ketat, seperti peletakan motif sarung laki-laki di daerah Manggarai atau Maumere yang harus berada di bagian belakang dan tidak boleh dipakai sembarangan.
“Kalau kita tidak memperkenalkan kebenaran penggunaan pakaian adat ini kepada anak-anak, maka generasi penerus kita mungkin hanya meneruskan sejarah menggunakan pakaian adat tanpa tahu kebenaran maknanya,” ujar Yonson menambahkan.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan formal melalui optimalisasi mata pelajaran muatan lokal dan seni budaya. Sekolah diharapkan mampu menanamkan kesadaran sejak dini agar generasi muda tidak sekadar tahu kebudayaan di permukaan atau 'pucuknya' saja, melainkan memahami esensi budaya hingga ke akarnya demi menjaga martabat jati diri daerah. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....