Sastra Bedakan Konsep Laki-Laki dan Pria Secara Mendalam

  • 25 Mei 2026 10:10 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Nilai dan karakter seorang pria memiliki ruang penafsiran yang mendalam jika ditelaah melalui karya sastra, khususnya puisi. Dalam program "KECAPI" (Ketong Baca Puisi) di Pro 4 RRI Kupang, perbedaan mendasar antara konsep biologis laki-laki dan karakter seorang 'pria sejati' dikupas tuntas melalui metafora-metafora puitis.

Penulis sekaligus Penyair asal Nusa Tenggara Timur (NTT), E. Nong Yonson menjelaskan bahwa dalam realitas biologis maupun psikologis, pria dan laki-laki memang berada dalam satu kesatuan. Namun, di dalam ekosistem karya sastra, kedua istilah tersebut merepresentasikan esensi yang sangat berbeda.

“Semua pria itu otomatis laki-laki, tetapi tidak semua laki-laki adalah pria. Laki-laki itu merujuk pada jenis kelamin sejak lahir, sementara pria adalah sebuah karakter yang dibentuk. Pria adalah sosok yang sudah menyelesaikan drama hidupnya dan siap menjadi tumpuan bagi orang lain,” kata E. Nong Yonson saat diwawancarai Pro 4 RRI Kupang Sabtu, 16 Mei 2026.

Nong menambahkan, para penyair besar seperti Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, hingga WS Rendra kerap menyematkan simbol kerja keras dan pengorbanan yang sunyi pada tokoh pria. Tubuh pria dalam puisi jarang digambarkan melalui estetika visual fisik seperti mata atau bibir, melainkan dominan disimbolkan lewat kepala sebagai kompas arah jalan, serta bahu dan punggung sebagai lambang pemikul tanggung jawab.

“Nilai seorang pria dalam pandangan hidup dan karya sastra terukur dari dua hal utama, yakni apa yang bisa ia berikan dan menjadi apa ia bagi semesta sekitarnya. Jika ia belum mampu memberikan sesuatu atau menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain, maka ia kehilangan nilai kepriaannya,” ujar penulis buku Bicaralah Pada Hening tersebut.

Karakter pria juga diidentikkan dengan keteguhan yang menyembunyikan kerapuhan. Merujuk pada pemikiran sastra, seorang pria sering kali digambarkan memilih menyembunyikan air matanya di tengah derasnya air hujan karena tuntutan sosial sejak kecil yang melarang mereka untuk terlihat lemah.

Melalui telaah puisi ini, masyarakat dan generasi muda diharapkan dapat memahami kedalaman tanggung jawab seorang pria. Sastra bukan sekadar untaian kata indah, melainkan media refleksi kritis untuk mengukur kualitas hidup, komitmen, serta kebijaksanaan di tengah dinamika sosial kemasyarakatan. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....