Dunstan Obe: Maknai Puisi Sebagai Ekspresi Perasaan dan Alat Bicara Favorit

  • 29 Apr 2026 08:19 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Dunstan Obe, dikenal sebagai sosok yang aktif menulis puisi, tetapi juga terlibat sebagai editor, fasilitator kelas sastra, hingga menggarap musikalisasi puisi dan film dokumenter
  • Menurut Dunstan, puisi adalah alat bicara favorit untuk mengekspresikan dinamika perasaan sekaligus suara bagi ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya
  • Tantangan terbesar bagi penulis saat ini adalah hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan kemudahan instan dalam memproduksi teks puitis.
  • Tanpa budaya membaca yang kuat, puisi hanya akan menjadi permukaan estetika tanpa makna mendalam yang bisa dirasakan pembacanya.
  • Hari Puisi Nasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi titik lahirnya generasi baru pecinta sastra.

RRI.CO.ID, Kupang - Peringatan Hari Puisi Nasional pada Selasa, 28 April 2026 menjadi momentum krusial bagi masyarakat untuk sejenak berhenti dari rutinitas yang serba cepat. Tanggal ini dipilih untuk mengenang wafatnya Chairil Anwar, sosok penyair legendaris yang karya-karyanya terus menginspirasi semangat perubahan lintas generasi.

Dalam wawancara bersama RRI Pro2 Kupang, Selasa 28 April 2026, sastrawan muda yang telah aktif sejak 2017 dari Komunitas Dusun Flobamora, Dunstan Obe, dikenal sebagai sosok yang aktif menulis puisi, tetapi juga terlibat sebagai editor, fasilitator kelas sastra, hingga menggarap musikalisasi puisi dan film dokumenter. “Saya sekarang lebih banyak sibuk menulis dan membaca, itu sudah jadi bagian dari keseharian,” ujarnya dalam perbincangan tersebut.

Ketertarikannya pada puisi bermula dari pengalaman personal yang sederhana namun mendalam. Ia mengaku mulai mencintai puisi seiring proses pendewasaan dan pergulatan batin yang ia alami sejak masa kuliah.

“Saya jatuh cinta pada puisi bersamaan dengan saya mulai mengenal pahit manisnya hidup,” katanya. Dunstan menekankan puisi bukan sekadar rangkaian kata indah yang menghiasi kertas.

Baginya, puisi adalah alat bicara favorit untuk mengekspresikan dinamika perasaan sekaligus suara bagi ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya. Menariknya, Dunstan mengungkapkan bahwa inspirasi menulis sering kali lahir justru di saat-saat ia merasa jatuh atau terhimpit oleh kerasnya nasib.

Momen puitik tersebut ia gunakan untuk merefleksikan diri sebagai warga negara yang terkadang merasa tidak berdaya menghadapi sistem."Bagi saya, puisi berperan penting memberi kita ruang refleksi dan jeda agar kita tidak terlalu tenggelam dalam logika kecepatan zaman yang melelahkan," ujar Dunstann Obe saat berbincang di line Zoom bersama Pro 2 RRI Kupang.

Tantangan terbesar bagi penulis saat ini adalah hadirnya kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan kemudahan instan dalam memproduksi teks puitis. Namun, Dunstan percaya keaslian rasa dan kedalaman refleksi manusia tidak akan pernah bisa digantikan oleh algoritma mesin mana pun.

Sebagai editor di penerbit komunitas Dusun Flobamora, ia juga mengingatkan bahwa menjadi penyair membutuhkan ketekunan membaca yang luar biasa agar memori kata mengkristal di alam bawah sadar. Tanpa budaya membaca yang kuat, puisi hanya akan menjadi permukaan estetika tanpa makna mendalam yang bisa dirasakan pembacanya.

Menutup perbincangan, Dunstan berharap Hari Puisi Nasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga menjadi titik lahirnya generasi baru pecinta sastra. Ia meyakini bahwa puisi akan terus hidup melampaui zaman.

“Puisi lebih kuat dari duka dan waktu, bahkan ketika kita tiada, puisi tetap akan hidup dan berbicara,” katanya, mengakhiri. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....