Membaca yang Tak Tertulis, Perjalanan Mayana Memahami Budaya
- 28 Apr 2026 17:48 WIB
- Kupang
RR.CO.ID, Rote - Sepulang dari Bali, Mayana Tysellanata Saleky, masih membawa hangatnya pengalaman yang sulit ia lupakan. Ia merupakan Remaja Puteri Literasi Budaya Indonesia 2025 asal Kabupaten Rote Ndao, Provinsi NTT.
Remaja bertalenta ini juga memiliki latar belakang budaya yang beragam, dengan darah Maluku dari sang ayah. Pengalaman tersebut ia dapatkan saat mengikuti kegiatan bersama tim PPLBI di Ubud, Bali, yang membawanya lebih dekat pada praktik literasi budaya melalui seni membatik.
Di Ubud, ia menghabiskan waktu duduk lesehan di bale kayu. Tak ada suara riuh, hanya desis lilin panas dan goresan canting yang perlahan membentuk makna di atas kain putih.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Mayana memegang canting. Di hadapannya, sketsa bunga dan kupu-kupu terlihat sederhana. Namun saat mulai menggores, garis pertamanya justru melebar dan tak beraturan.
Ia sempat berhenti. Bukan karena menyerah, tetapi karena mulai sadar bahwa yang sedang ia lakukan bukan sekadar menggambar.
“Awalnya saya pikir ini cuma menggambar biasa, ternyata saya sedang belajar membaca budaya,” ujar Mayana saat ditemui RRI di Rote, Selasa 28 April 2026.
“Kalau terburu-buru, hasilnya jadi tidak bermakna, jadi saya belajar pelan-pelan menikmati proses,” ujar Mayana menceritakan pengalamannya.
Dari situ, ia mulai melihat batik dengan cara berbeda. Bunga jepun dan kupu-kupu yang ia goreskan bukan lagi sekadar bentuk, melainkan simbol ketulusan yang hidup dalam budaya Bali.
Pola yang berulang mengajarkannya tentang keteraturan, sementara garis lengkung memberi pelajaran tentang bagaimana manusia harus tetap lentur menghadapi kehidupan.
"Di sana saya merasa seperti sedang membaca cerita tanpa kata-kata. Dan setiap garis punya pesannya sendiri,” kata Mayana.
Mayana mengaku, pengalaman itu menjadi bentuk literasi budaya yang paling nyata yang pernah ia rasakan. Tidak ada teori panjang, hanya proses, kesabaran, dan penghargaan terhadap warisan yang telah ada sejak ratusan tahun.
Kini, setiap kali melihat batik, ia tak lagi sekadar melihat keindahan. Ada cerita yang ia baca, ada nilai yang ia pahami, dan ada pesan yang ia rasakan.
“Dari sana saya belajar, literasi itu bukan hanya dari buku. Kadang kita harus turun langsung, merasakan, bahkan salah, supaya benar-benar paham,” kata Mayana.
Di Rote, cerita itu kini ia bagikan. Bukan hanya sebagai kenangan perjalanan, tetapi sebagai pengingat bahwa budaya akan tetap hidup, selama ada yang mau belajar membacanya. (LA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....