Amon Tenis Guru Asal TTS Sukses Angkat Kearifan Lokal di Forum Internasional

  • 14 Apr 2026 20:22 WIB
  •  Kupang
Poin Utama
  • Amon Barnabas Tenis, S.Pd., M.A., sukses meraih penghargaan Best Presenter dan Best Paper dalam konferensi internasional di Bali pada November 2025 lalu
  • Tradisi makan sirih pinang suku Dawan (TTS) yang diangkat Amon bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam
  • Pentingnya mengangkat tradisi makan sirih pinang ini terletak pada esensinya sebagai sistem komunikasi simbolik yang jauh lebih bermakna daripada sekadar rutinitas fisik.
  • Amon menekankan bahwa di era teknologi ini, masyarakat NTT khususnya kaum muda harus bangga dengan identitas mereka.

RRI.CO.ID, Kupang - Amon Barnabas Tenis, S.Pd., M.A., seorang guru Bahasa Inggris asal Timor Tengah Selatan (TTS), sukses meraih penghargaan Best Presenter dan Best Paper dalam konferensi internasional di Bali pada November 2025 lalu, setelah mempresentasikan risetnya mengenai tradisi makan sirih pinang suku Dawan. Prestasi ini diraih Amon di hadapan akademisi mancanegara karena keberaniannya mengangkat praktik budaya lokal NTT ke dalam kajian ilmiah yang analitis dan mendalam.

Dalam wawancara pada Senin, 12 April 2026 di RRI Pro2 Kupang, Amon membuktikan bahwa identitas kedaerahan memiliki nilai jual tinggi di panggung global jika dikemas dengan perspektif akademik yang kuat. Tradisi makan sirih pinang yang diangkat Amon bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam.

Pentingnya mengangkat tradisi makan sirih pinang ini terletak pada esensinya sebagai sistem komunikasi simbolik yang jauh lebih bermakna daripada sekadar rutinitas fisik. "Sirih pinang beroperasi sebagai bahasa non-verbal atau tindakan tanpa kata yang menjadi medium interaksi sosial, mulai dari menyambut tamu hingga menjadi sarana penyelesaian konflik," ungkap Amon.

Amon menjelaskan bahwa keikutsertaannya bermula dari ketertarikan mengkaji budaya sendiri saat menempuh studi di Universitas Gadjah Mada. “Saya melihat banyak orang mengangkat budaya mereka, lalu saya berpikir, kenapa tidak saya membawa budaya dari daerah saya sendiri ke forum internasional,” ujarnya.

Ia mengaku sempat ragu apakah topik yang dianggap sederhana tersebut layak dipresentasikan di tingkat internasional. “Awalnya saya tidak percaya diri, karena biasanya kita berpikir harus membawa sesuatu yang besar, padahal identitas kita sendiri justru punya nilai yang unik,” katanya.

Penelitian tersebut kemudian berhasil lolos seleksi dan membawanya menjadi pembicara dalam forum internasional. “Puji Tuhan, paper saya diterima dan saya dipercaya untuk mempresentasikannya,” ungkap Amon.

Secara mendalam, tradisi ini adalah simbol kehormatan dan "kapital budaya" yang mempererat relasi antarmanusia, sebuah kekayaan intelektual lokal yang kini telah diakui secara global melalui publikasi di jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.

Kehadiran Amon di forum Internasional tersebut sempat mengejutkan peserta dari India, Nepal, dan Bangladesh yang memiliki tradisi serupa namun dengan fungsi yang berbeda. Antusiasme audiens internasional menunjukkan bahwa dunia luar sangat menghargai keunikan budaya Timor yang orisinal.

Bagi Amon, membedah tradisi ini secara ilmiah adalah cara terbaik untuk melestarikan warisan leluhur agar tidak tergerus zaman dan tetap relevan bagi generasi muda. Dalam proses penelitiannya, Amon mendapat dukungan penuh dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) tempat ia menempuh studi magister linguistik.

Ia berhasil mengubah deskripsi sederhana mengenai sirih, pinang, dan kapur menjadi sebuah analisis teoretis yang tajam. Hal ini membuktikan bahwa latar belakangnya sebagai pengajar bahasa tidak menghalanginya untuk menjadi duta budaya di level internasional.

Amon menekankan bahwa di era teknologi ini, masyarakat NTT khususnya kaum muda harus bangga dengan identitas mereka. Baginya, jurnal internasional bukan sekadar prestasi akademik, melainkan jembatan agar dunia tahu bahwa apa yang dianggap sepele di daerah bisa menjadi sebuah kekayaan yang berharga secara universal.

Riset ini diharapkannya dapat menjadi "obat" bagi pudarnya kecintaan terhadap budaya lokal di tengah gempuran budaya asing. Respon positif yang diterima Amon melalui media sosial menunjukkan adanya kebanggaan kolektif dari masyarakat TTS.

Meski awalnya ia sempat ragu, namun apresiasi dari para ahli bahasa dunia memberikan kepercayaan diri baru bahwa budaya Timur Indonesia memiliki kedudukan yang setara dengan kebudayaan besar lainnya. Ia berharap jejaknya ini dapat diikuti oleh peneliti dan praktisi pendidikan lainnya di NTT.

Amon berharap pencapaiannya dapat mendorong generasi muda untuk lebih bangga terhadap budaya sendiri. “Hal-hal yang kita anggap sederhana ternyata memiliki nilai besar di mata dunia, sehingga penting untuk terus kita jaga, teliti, dan perkenalkan secara global,” pungkasnya. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....