Pendidikan Adat sebagai Pondasi Jati Diri Generasi Muda

  • 07 Apr 2026 08:08 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Pendidikan adat menjadi pondasi utama dalam membentuk kedaulatan dan martabat generasi muda di Tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui pendidikan ini, anak-anak diajarkan untuk mengenal jati diri agar tidak menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri.

Penggerak Pendidikan Adat Sumba, Rambu Ana Intan, menyatakan bahwa pendidikan adat di wilayah Sumba bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis, melainkan menanamkan kesadaran sebagai pewaris leluhur. Hal tersebut disampaikannya dalam program Obrolan Budaya di Pro 4 RRI Kupang, Sabtu 4 April 2026.

“Pondasi utamanya adalah mengenal jati diri. Kami membentuk karakter yang berakar kuat agar kelak anak-anak menjadi pemimpin yang berdaulat, mandiri, dan menjunjung tinggi martabat masyarakat adat,” ujarnya.

Menurut Rambu, penanaman identitas budaya harus dimulai sejak usia dini karena pada masa tersebut anak-anak memiliki daya serap yang tinggi. Jika pendidikan ini diabaikan, anak-anak berisiko kehilangan akar budaya meskipun mereka memiliki kemampuan akademis yang tinggi di sekolah formal.

Hingga tahun 2026, tercatat sudah ada tujuh sekolah adat yang tersebar di empat kabupaten di Pulau Sumba. Rinciannya, dua sekolah di Sumba Timur, tiga di Sumba Tengah, dan dua di Sumba Barat. Sekolah-sekolah ini hadir untuk mengisi celah nilai-nilai adat yang mulai tergerus oleh zaman, seperti penggunaan bahasa daerah dan tata krama tradisional.

Terkait metode pengajaran, Rambu menjelaskan bahwa sekolah adat menerapkan prinsip "Alam Raya adalah Sekolahku". Berbeda dengan sekolah formal yang berbasis teori, pendidikan adat lebih mengedepankan pengalaman langsung.

“Anak-anak dilibatkan langsung dalam kegiatan sehari-hari, seperti menenun, menganyam, hingga mengikuti ritual adat dan musyawarah. Kami juga menggunakan permainan tradisional agar proses belajar terasa menyenangkan,” jelasnya.

Meski arus digitalisasi sangat kuat, Rambu menegaskan bahwa pendidikan adat tidak menolak modernisasi. Teknologi dipandang sebagai alat, sementara budaya adalah jiwa.

Dengan identitas yang kuat, generasi muda diharapkan mampu menggunakan teknologi secara cerdas tanpa meninggalkan etika dan sopan santun adat. Ia berpesan kepada para orang tua agar tetap memberikan akar budaya yang kuat kepada anak-anaknya.

“Jangan biarkan anak-anak kita pandai membaca dunia, tapi lupa membaca jati dirinya sendiri. Anak yang tahu asal-usulnya, akan tahu arah tujuannya,” pungkasnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....