Tradisi Tikam Turo, Penanda Sakral Dimulainya Prosesi Semana Santa di Larantuka
- 31 Mar 2026 20:45 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Tradisi Tikam Turo merupakan salah satu ritual adat dan religius yang masih lestari di Larantuka. Tradisi ini dilakukan dengan menancapkan pagar bambu atau turo di sepanjang rute prosesi Semana Santa. Biasanya, Tikam Turo dilaksanakan dua hingga tiga hari sebelum memasuki Tri Hari Suci, sebagai tanda dimulainya masa hening dan persiapan umat menjelang perayaan Paskah.
Ritual ini tidak sekadar kegiatan fisik memasang pagar, tetapi memiliki makna spiritual yang mendalam. Tikam Turo menjadi simbol penetapan batas sakral yang akan dilalui dalam prosesi arak-arakan patung Tuan Ma dan Tuan Ana. Dengan adanya pagar bambu tersebut, jalur prosesi dipisahkan dari aktivitas umum masyarakat, menciptakan suasana khusyuk dan penuh penghormatan.
Selain sebagai pembatas, Tikam Turo juga menandai dimulainya masa tenang bagi warga. Masyarakat diimbau untuk menjaga sikap, ucapan, dan perilaku selama berlangsungnya rangkaian Semana Santa. Nuansa religius pun semakin terasa, di mana aktivitas sehari-hari mulai dibatasi dan digantikan dengan doa serta refleksi spiritual.
Tradisi ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat yang bekerja bersama dalam semangat gotong royong. Warga secara sukarela menyiapkan bambu, menancapkannya, hingga memastikan jalur prosesi siap digunakan. Keterlibatan lintas generasi dalam Tikam Turo menjadi bukti kuat bahwa nilai budaya dan iman tetap diwariskan secara turun-temurun.
Keberadaan Tradisi Tikam Turo tidak hanya memperkuat identitas religius masyarakat Flores Timur, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang unik di Indonesia. Di tengah arus modernisasi, tradisi ini tetap dijaga sebagai bagian penting dari warisan lokal. Tikam Turo pun menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya, iman, dan kehidupan sosial masyarakat. (RN)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....