Perkuat Karakter Siswa, Sekolah Didorong Integrasikan Budaya Lokal

  • 28 Mar 2026 06:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang- Dunia pendidikan saat ini tidak hanya dituntut untuk mencetak generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Melalui Obrolan Budaya RRI Pro 4 Kupang, Selasa 24 Maret 2026, E. Nong Yonson, penulis, praktisi, sekaligus pemerhati budaya, menekankan pentingnya optimalisasi budaya lokal sebagai fondasi utama pendidikan karakter di sekolah.

Menurutnya, pendidikan dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ia mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

"Budaya adalah akar dari sebuah peradaban yang mengandung nilai, moral, adat istiadat, dan toleransi. Sementara itu, pendidikan adalah pewaris kebudayaan," ujarnya. Melalui pendidikan, nilai-nilai luhur seperti empati dan tradisi dapat diwariskan secara terstruktur dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam dunia pendidikan, terdapat tiga aspek utama yang dibentuk, yaitu kognitif (kemampuan akademik), afektif (sikap dan perilaku), serta psikomotorik (keterampilan). Ia menyoroti bahwa aspek afektif atau karakter seharusnya memiliki porsi 50 persen, sementara kognitif dan psikomotorik masing-masing 25 persen.

Ia mengingatkan kutipan BJ Habibie bahwa orang bodoh bisa jadi pintar dengan belajar, namun orang dengan karakter buruk sulit untuk diubah. Oleh karena itu, budaya lokal yang sarat akan nilai moral menjadi instrumen vital dalam membentuk karakter siswa di tengah maraknya krisis degradasi moral saat ini.

E. Nong Yonson mengakui adanya tantangan besar bagi guru di era modern. Jika dahulu "di ujung rotan ada emas" (disiplin fisik yang diterima), kini "di ujung rotan ada rutan", merujuk pada banyaknya kasus hukum yang menjerat guru saat mendisiplinkan siswa.

Pendidikan karakter menurutnya harus melibatkan tiga lokus utama, yaitu rumah sebagai embrio karakter, sekolah sebagai proses tumbuhnya karakter, dan masyarakat sebagai buah dari karakter tersebut. Sebagai langkah konkret, Nong menyarankan agar sekolah tidak ragu menghadirkan tokoh adat atau budayawan ke dalam ruang kelas sebagai "mitra belajar".

Hal ini bertujuan agar siswa mendapatkan penjelasan yang logis dan mendalam mengenai filosofi budaya mereka sendiri, seperti tradisi Pasola di Sumba atau Samana Santa di Larantuka. Ia juga mendorong agar setiap sekolah memiliki produk berbasis budaya lokal (One School One Product), contohnya, siswa bisa diajak membuat replika rumah adat dari barang bekas dan belajar menarasikan makna filosofis di balik arsitektur tersebut.

Menutup dialog, E. Nong Yonson berharap agar budaya lokal tidak hanya menjadi "etalase" atau hiasan semata, melainkan menjadi roh dalam sistem pendidikan. "Anak-anak sekarang tidak hanya butuh narasi, mereka butuh aksi. Beri mereka peran, bimbing mereka, dan beri panggung untuk menjelaskan perannya sebagai pewaris budaya," ujarnya. (JR)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....