Bahasa Dawan dan Sirih Pinang Angkat Budaya Timor ke Panggung Global
- 21 Mar 2026 05:10 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID,Kupang-Kekayaan budaya Timor, mulai dari tradisi makan sirih pinang hingga bahasa Dawan, menjadi sorotan di dunia akademik internasional. Mahasiswa Magister Linguistik Universitas Gadjah Mada (UGM), Amon Bernabas Tenis, S.Pd, berkomitmen menjadikan karya ilmiah sebagai alat pelestarian identitas Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dalam dialog "Obrolan Budaya" di Pro 4 RRI Kupang, Rabu 18 Maret 2026, Amon menyoroti tantangan generasi muda yang mulai kehilangan kedekatan dengan bahasa ibu akibat pengaruh modernisasi. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena anak muda Timor yang cenderung malu menggunakan bahasa daerah saat berada di lingkungan urban, padahal, menurutnya, bahasa adalah fondasi utama jati diri.
"Bahasa daerah bukan sekadar alat bicara, tapi identitas yang terbentuk dari kesepakatan sosial. Jika kita malu memakainya, kita sedang kehilangan jati diri kita sendiri," ujarnya.
Salah satu langkah konkretnya dalam mengangkat budaya lokal adalah saat menjadi pembicara utama dalam seminar internasional di Bali pada November 2025. Di hadapan peneliti dari India, Nepal, dan Bangladesh, ia membedah filosofi Sirih Pinang dalam perspektif inovasi sosial.
Ia menjelaskan bahwa dalam masyarakat Timor Tengah Selatan (TTS), sirih pinang bukan sekadar konsumsi, melainkan elemen wajib dalam hukum adat. Paparan ini menarik perhatian dunia internasional yang kagum akan keunikan proses pengolahan pinang di NTT.
Sebagai akademisi, Amon melihat adanya ketimpangan antara pelestarian budaya di Jawa dengan di Timur Indonesia. Ia mencontohkan bagaimana bahasa Jawa dan Sunda telah masuk dalam kurikulum pendidikan formal hingga tingkat universitas.
"Di Jawa ada jurusan Pendidikan Bahasa Jawa. Saya bermimpi suatu saat di NTT, pemerintah daerah memiliki kebijakan agar bahasa daerah seperti Dawan menjadi mata pelajaran mandiri, bukan sekadar tempelan di muatan lokal," tegasnya.
Saat ini, Amon tengah merampungkan buku berjudul "Pemarkahan Bahasa Dawan". Buku ini diharapkan menjadi referensi tertulis yang krusial, mengingat selama ini transmisi bahasa daerah di Timor lebih banyak dilakukan secara lisan.
Ia juga menekankan bahwa teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) seharusnya tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan peluang untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan budaya lokal ke skala global. Ia mengajak pemuda NTT untuk bangga dengan asal-usulnya.
"Jangan malu menunjukkan identitasmu di mana pun berada. Budaya kita adalah kekayaan yang tidak akan termakan waktu, asalkan kita sendiri mau menjaganya," pungkasnya. (JR)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....