Kasih kepada Sesama Tidak Cukup Hanya Diucapkan, Harus Diwujudkan dalam Tindakan
- 05 Okt 2026 08:25 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi merupakan ajaran yang diterima banyak orang, namun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mengasihi sesama, masih menjadi tantangan. Kasih kepada sesama sering kali terbentur luka, kekecewaan, dan berbagai alasan yang membuat seseorang sulit mengampuni dengan tulus.
“Mengasihi diri dan mengasihi sesama manusia merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kemampuan mengampuni, memberikan kesempatan, tersenyum, memaklumi, berbelas kasih, dan mengalah kepada sesama dapat tumbuh ketika seseorang terlebih dahulu belajar menerima dirinya sendiri,” kata Penyuluh Agama Katolik, Zakarias Paus Tola di RRI Kupang, Senin, 5 Oktober 2026
Kasih juga tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Setiap manusia memiliki kelemahan dan kekurangan sehingga proses belajar mengasihi perlu dilakukan secara terus-menerus. Kesadaran bahwa kasih yang sempurna hanya dimiliki Tuhan menjadi dorongan bagi manusia untuk terus memperbarui diri dalam relasi dengan sesama.
“Untuk bisa menjalankan hukum mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Kita tidak harus menunggu untuk memiliki kasih yang sempurna dalam diri, melainkan kita dapat berproses bersama untuk mencapai kasih yang total itu,” katanya.
Kasih yang sejati pada akhirnya tidak berhenti pada kata-kata atau ungkapan perasaan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Dengan segala kelemahan yang dimiliki, manusia dipanggil untuk terus belajar mengasihi, mengampuni, memberikan kesempatan, dan hadir bagi sesama, karena kasih yang benar bukan sekadar kasih yang diucapkan, melainkan kasih yang bertindak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....