Rima dan Irama Menjadi Jantung Utama Puisi

  • 22 Sep 2026 09:26 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Rima dan irama diibaratkan sebagai jantung dan napas utama yang menghidupkan sebuah karya puisi. Kehadiran dua elemen tersebut tidak hanya memberikan keteraturan struktur, tetapi juga menyalurkan getaran jiwa serta membangun nuansa estetika bagi para penikmat sastra.

Hal tersebut diungkapkan oleh Penulis dan Penyair Nusa Tenggara Timur, E. Nong Yonson, saat menjadi narasumber dalam program Kecapi (Ketong Baca Puisi) di Pro 4 RRI Kupang, Sabtu, 19 September 2026.

Menurut Nong, puisi yang kehilangan rima akan kehilangan tautan memorinya, sementara puisi tanpa irama akan kehilangan unsur musik internalnya.

“Rima dan irama itu seperti jantung dan napas. Rima berfungsi menstrukturkan puisi, sedangkan irama bertujuan menghidupkan suasana di dalamnya, sehingga pesan dan getaran emosi penyair dapat tersampaikan dengan kuat kepada pendengar,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam proses penulisan maupun pembacaan puisi, pemahaman terhadap jenis-jenis rima, seperti rima akhir, rima internal, rima sempurna, hingga rima tak sempurna menjadi modal penting untuk menciptakan irama yang harmonis.

Selain itu, ketepatan artikulasi dan intonasi saat pembacaan puisi turut menentukan keutuhan makna agar tidak bias bagi penikmat karya sastra.

Nong juga menambahkan bahwa karya puisi yang memiliki keteraturan rima dan irama yang baik akan lebih mudah dan fleksibel untuk ditransformasikan ke dalam bentuk seni lain, seperti musikalisasi puisi maupun dramatisasi.

Diharapkan generasi muda dan pegiat sastra di NTT terus mengasah keterampilan mengolah rima dan irama agar karya sastra daerah tidak hanya kaya akan pesan moral dan kritik sosial, tetapi juga memiliki nilai estetika seni yang tinggi. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....