E. Nong Yonson Tekankan Perbedaan Menulis dan Membaca Puisi
- 10 Agt 2026 13:39 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Penulis sekaligus penyair Nusa Tenggara Timur, E. Nong Yonson, menyebutkan bahwa keterampilan menulis puisi dan kemampuan membacakan puisi merupakan dua jenis kompetensi yang berbeda dan tidak dapat disamakan pada setiap individu. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman khusus mengenai karakteristik dan batasan kemampuan dari masing-masing bidang tersebut.
Hal itu diungkapkannya dalam siaran Obrolan Kecapi (Ketong Baca Puisi) di RRI Pro 4 Kupang. Nong Yonson mengibaratkan hubungan antara penulis dan pembaca puisi seperti seorang pencipta lagu dengan penyanyi.
"Menulis adalah kompetensi produktif-individual yang tumbuh dari bakat batin, sedangkan membaca puisi adalah keterampilan mengeksekusi interpretasi dan melatih vokal serta gestur. Tidak semua penulis puisi adalah pembaca puisi yang baik," ungkap Nong.
Nong Yonson mengungkapkan bahwa para dewan juri dan praktisi sastra di NTT telah menyuarakan pentingnya pemisahan kategori lomba sejak tahun 2019. Menurutnya, ajang perlombaan sastra idealnya memisahkan antara kategori lomba cipta puisi dan lomba baca puisi agar potensi setiap peserta dapat terolah secara optimal.
Ia menerangkan, setiap karya puisi memiliki karakter dan warna nada yang beragam, mulai dari romantisme, balada, hingga kritik sosial. Seseorang yang terampil menulis puisi kritik sosial belum tentu memiliki karakter suara dan ekspresi yang cocok untuk membacakannya di atas panggung secara maksimal.
Lebih lanjut, Nong Yonson menekankan pentingnya sikap "tahu diri dan tahu batas" bagi seorang penyair maupun praktisi sastra. Tahu diri berarti memahami fokus kompetensi yang dimiliki, sementara tahu batas adalah kesadaran untuk tidak memaksakan gaya atau genre yang tidak sesuai dengan karakteristik pribadinya.
Prinsip tersebut juga berlaku dalam pemilihan materi puisi bagi peserta didik di lembaga pendidikan. Ia mengingatkan para pendidik dan panitia kegiatan agar memilah teks puisi secara cermat sesuai usia serta warna suara pelajar, baik tingkat SD, SMP, SMA, maupun mahasiswa, guna mendukung pengembangan bakat anak secara tepat.
Menurut Nong Yonson, membaca puisi dengan jiwa menuntut pembaca untuk "menjadi puisi itu sendiri" melalui ketepatan interpretasi, ekspresi, dan penghayatan total. Pembaca tidak sekadar melafalkan bait, melainkan menjadi media penyampai pesan moral dan eksistensial karya kepada pendengar.
Nong Yonson berharap iklim berkesenian dan apresiasi sastra di NTT terus berkembang secara profesional dengan menghargai keunikan peran para kreatornya.
"Setiap orang memiliki warnanya masing-masing. Ketika kita mampu mengenali potensi dan batasan diri, karya yang dihasilkan maupun yang dibacakan akan sampai ke hati pendengar dengan penuh kejujuran," tuturnya. (Daten)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....