Penyair NTT Ungkap Pentingnya Kedalaman Makna Karya Sastra

  • 10 Agt 2026 13:36 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Penulis dan penyair asal Nusa Tenggara Timur, E. Nong Yonson, menegaskan bahwa proses penciptaan dan penghayatan karya sastra bukanlah sebatas deretan tanda linguistik atau permainan kata yang sederhana. Menurutnya, kesusastraan sejati menuntut perpaduan utuh antara menulis dengan hati dan membaca dengan jiwa sebagai bentuk perjumpaan otentik antarmanusia.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Obrolan Kecapi (Ketong Baca Puisi) di RRI Pro 4 Kupang. "Hati adalah tempat segala perasaan bermuara, sedangkan jiwa adalah tempat segala permenungan bernaung," katanya.

"Menulis dengan hati berarti menuangkan kejujuran batin dan empati, sementara membaca dengan jiwa berarti menyelami makna terdalam melampaui tekstualitas literal," ujar Nong Yonson. Nong Yonson menjelaskan, dalam sudut pandang filsafat hermeneutika seperti yang digagas Hans-Georg Gadamer, membaca karya sastra dengan jiwa merupakan proses peleburan cakrawala.

Batin pembaca melebur bersama dunia pengarang dalam sebuah dialog yang terus hidup, sehingga menciptakan ruang introspeksi eksistensial mengenai keberadaan manusia di semesta. Ia juga mengutip pemikiran Roland Barthes yang menekankan bahwa membaca dengan jiwa mampu menghidupkan lapis-lapis makna baru melalui intuisi pembaca.

Proses ini berperan penting dalam melatih serta mengasah rasa simpati dan empati terhadap sesama. "Melalui sastra, kita tidak hanya diajak merasakan penderitaan orang lain, tetapi juga terlibat secara mendalam hingga ke dasar perasaan tersebut," katanya.

Nong Yonson menilai karya sastra memiliki kedudukan yang sangat krusial dalam dunia pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sastra dianggap mampu melatih dua aspek mendasar kemanusiaan, yakni emosional untuk mengasah kepekaan serta imajinatif untuk membangkitkan kreativitas generasi muda.

Selain itu, Nong Yonson juga membedakan antara puisi yang ditulis secara mekanis dengan puisi yang lahir dari kejujuran hati. Puisi mekanis dinilainya hanya bersifat informatif dan temporal seperti tren sesaat yang cepat menghilang, sedangkan puisi yang ditulis dari hati akan abadi dalam ingatan dan kekal dalam rasa.

Ia mencontohkan karya-karya besar seperti Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis dan puisi Aku karya Chairil Anwar yang terus hidup melintasi zaman karena ditulis dengan getaran hati serta dibaca dengan kedalaman jiwa. Nong Yonson berharap masyarakat dan penikmat sastra di Nusa Tenggara Timur dapat menjadikan karya sastra sebagai media kontemplasi untuk merenungkan makna kehidupan serta menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

"Sastra itu bukan sebatas karya tulisan, tetapi sastra adalah kehidupan itu sendiri yang selalu memberi energi dan keindahan dalam perjumpaan antara pengarang dan pembacanya," tuturnya. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....