GMIT Tahbiskan 114 Pendeta Baru Siap Membawa Pembaruan Pelayanan
- 27 Jul 2026 13:07 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang-Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) resmi menahbiskan 114 pendeta baru dalam ibadah pentahbisan yang berlangsung khidmat di Jemaat GMIT Koinonia Kupang, Minggu (26/7/2026). Penambahan tersebut meningkatkan jumlah pendeta GMIT dari sebelumnya 1.739 orang menjadi 1.853 orang yang akan melayani di berbagai wilayah pelayanan gereja.
Ibadah pentahbisan dipimpin oleh Pdt. Delfiana K. Poyck-Snae dan Pdt. Lay Abdi K. Wenyi sebagai liturgos, sementara khotbah disampaikan oleh Pdt. Dr. Mesakh Abia Pello Dethan. Prosesi diawali dengan arak-arakan simbolis anak-anak pembawa toga pendeta, diikuti para vikaris dan pendeta pendamping sebelum ibadah penahbisan dimulai.
Dalam suara gembalanya, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menekankan bahwa para pendeta yang baru ditahbiskan harus menjadi pelayan yang otentik, natural, dan konsisten menghadirkan pembaruan di tengah jemaat.
Menurutnya, pendeta perlu meneladani filosofi pohon sawi dan ragi sebagaimana diajarkan dalam Alkitab. Filosofi pohon sawi menggambarkan pertumbuhan yang alami tanpa kepura-puraan, sedangkan ragi melambangkan kemampuan membawa perubahan positif dalam kehidupan jemaat.
"Menjadi seperti sawi berarti bertumbuh secara natural dan apa adanya tanpa perlu 'drama' atau kepura-puraan di atas mimbar dan dalam pelayanan. Sedangkan ragi berarti membawa pembaharuan di jemaat," ujar Pdt. Semuel.
Ia menjelaskan, perpaduan kedua filosofi tersebut mencerminkan karya Kerajaan Allah yang sanggup mengubah kehidupan yang kaku menjadi hidup dan penuh pembaruan. Karena itu, setiap pelayanan gereja harus terus menghadirkan transformasi, baik bagi jemaat maupun bagi pelayan Tuhan sendiri.
Selain itu, Pdt. Semuel mengingatkan para pendeta agar menghindari apa yang disebut sebagai ateisme fungsional, yakni keadaan ketika seorang pelayan mampu menjalankan tugas-tugas rohani dengan baik, tetapi kehilangan hati dan kehadiran Tuhan dalam setiap keputusan pelayanannya.
Bertepatan dengan Bulan Pendidikan GMIT, Ketua Sinode juga mengungkapkan langkah strategis gereja untuk menyelesaikan persoalan pendidikan melalui kebijakan sentralisasi gaji guru. Mengacu pada sejarah GMIT tahun 1947 yang berhasil menerapkan sentralisasi gaji pendeta, kini gereja menargetkan kebijakan serupa bagi guru agar mulai diterapkan pada tahun 2028.
Menurutnya, tim pengkaji telah dibentuk dan akan membawa keputusan tersebut dalam persidangan sinode di Flores. Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan guru sehingga mereka dapat menjalankan pelayanan pendidikan dengan lebih tulus dan maksimal.
Sementara itu, mewakili 114 pendeta yang baru ditahbiskan, Pdt. Dr. Elia Magang menyampaikan rasa syukur atas anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada mereka.
Ia menegaskan bahwa pentahbisan bukanlah pemberian jabatan struktural, melainkan penerimaan panggilan mulia untuk menghadirkan kasih, pengampunan, dan pengharapan Allah kepada sesama.
"Meskipun merasa gentar dan tidak layak di hadapan Tuhan, kami berkomitmen untuk terus belajar dan setia diproses," kata Pdt. Elia.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Majelis Sinode GMIT, jemaat pengutus, para dosen teologi, pendeta pendamping, serta keluarga yang telah memberikan dukungan selama proses pembentukan hingga pentahbisan.
Ibadah pentahbisan turut dihadiri jajaran Majelis Sinode GMIT, para Ketua Majelis Klasis, pendeta pendamping, jemaat GMIT Koinonia Kupang, serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) NTT, Noldy Hosea Pellokila, S.Sos., M.M.
Dengan penahbisan 114 pendeta baru ini, GMIT berharap pelayanan gereja semakin kuat dalam menjawab kebutuhan jemaat serta menghadirkan pembaruan yang nyata di tengah masyarakat sesuai panggilan Injil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....