Majas dan Diksi Tepat Membuat Puisi Lebih Menggugah Perasaan Pembaca
- 22 Jul 2026 13:31 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Para penulis dan penyair pemula di Nusa Tenggara Timur (NTT) diajak untuk lebih berani mengeksplorasi kekuatan diksi sederhana dan penggunaan majas yang padat rasa dalam melahirkan karya sastra. Langkah tersebut penting dilakukan agar karya puisi yang diciptakan tidak terjebak dalam kekelisan atau penggunaan kata-kata pasaran yang sudah terlalu sering digunakan oleh masyarakat.
Penulis dan Penyair NTT, E. Nong Yonson, dalam dialog interaktif "Kecapi" (Ketong Baca Puisi) di Pro 4 RRI Kupang, mengungkapkan bahwa tulang punggung dari sebuah karya puisi yang sukses memikat pembaca terletak pada kekuatan diksi dan ketajaman imajinasi. Ramuan kata yang pas akan menuntun pembaca untuk tidak sekadar memikirkan bait yang dibaca,
melainkan turut merasakan emosi di dalamnya.
Menurut Nong Yonson, ketika seorang penulis ingin menyusun tema tentang secangkir kopi dan suasana senja, mereka harus mampu menghidupkan elemen pengandaian. "Diksi yang digunakan harus padat akan rasa sehingga membuat pembaca mengangguk, menggeleng, atau tersenyum sendiri karena mereka merasakan langsung suasananya, bukan malah mengerutkan dahi karena kebingungan," jelasnya.
Selain memilih kata yang transparan, penggunaan majas seperti personifikasi, metafora, dan paradoks dinilai sangat efektif untuk menghidupkan benda mati atau suasana di dalam baris puisi. Contohnya adalah frasa paradoks 'manisnya lara' atau analogi kopi tanpa gula di atas meja hati yang mampu menggambarkan sebuah kegetiran hidup dengan cara yang elegan.
Nong Yonson menjelaskan, proses kreatif penyair pemula sering kali terhambat karena mereka terlalu fokus memikirkan teori majas apa yang harus dimasukkan saat mulai menulis. Ia menyarankan agar penulis membiarkan ide dan kata-kata mengalir secara alami terlebih dahulu, kemudian melakukan tahapan penyuntingan sastra untuk memangkas baris yang tidak harmonis.
Ia juga menerangkan bahwa karya puisi yang kuat memiliki sifat yang dinamis karena tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, di mana satu puisi yang sama dapat melahirkan interpretasi makna yang berbeda pada zaman yang berbeda. "Tugas penyair adalah menulis dengan jujur. Kritik dan penemuan majas biarkan menjadi domain dari kritikus serta pembaca yang menikmati karya tersebut," ucap Nong Yonson.
Dunia literasi di NTT saat ini juga terus berupaya membangun kecintaan terhadap sastra sejak dini, salah satunya melalui kelas sastra mingguan bagi anak-anak sekolah dasar di Kota Kupang. Program pendampingan ini terbukti mampu memicu imajinasi anak-anak untuk melahirkan diksi puitis yang sangat lengkap mengenai kasih sayang seorang ibu yang diibaratkan sebagai kehangatan senja.
Nong Yonson berharap momentum ini dapat memotivasi generasi muda NTT untuk menjadikan sastra sebagai media refleksi diri yang positif dalam memahami batas-batas kemanusiaan. "Puisi harus bisa memberi kesan yang mendalam untuk mengikat pembaca agar jatuh cinta pada rasa. Menulislah dengan kebebasan penuh, dan biarkan karya itu menemukan takdir serta maknanya sendiri di hati masyarakat," tutupnya. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....