Kopi dan Senja Simbol Kejujuran serta Kepastian Hidup Manusia

  • 22 Jul 2026 13:29 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Sastra dan puisi harus menjadi ruang yang transparan dan menyenangkan bagi pembaca, bukan medium yang menyiksa pikiran dengan simbol-simbol yang rumit. Menikmati bait-bait puisi sejatinya merefleksikan dua elemen puitis yang lekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, yakni kejujuran rasa seperti secangkir kopi dan kepastian jalan pulang layaknya keindahan senja.

Penulis sekaligus Penyair asal Nusa Tenggara Timur (NTT), E. Nong Yonson, dalam wawancara bersama Pro 4 RRI Kupang pada program "Kecapi" (Ketong Baca Puisi), mengatakan bahwa setiap kata di dalam karya puisi adalah perwakilan dari suatu makna dan maksud yang mendalam. Melalui perumpamaan kopi dan senja, sebuah puisi mampu menunjukkan karakter emosional serta interaksi antara pria dan wanita secara jujur.

Menurut Nong Yonson, kopi memiliki identitas yang sangat kuat terhadap nilai kejujuran karena rasa pahit atau manis yang dihasilkan tidak pernah membohongi lidah penikmatnya. "Kopi itu identik dengan rasa, kesetiaan, dan kejujuran yang biasanya lekat dengan pria. Hati tidak bisa berbohong ketika menikmati kopi di dalam bait puisi, karena jika pahit kita katakan pahit, jika manis kita katakan manis," ujarnya.

Selain melambangkan kejujuran rasa, elemen senja di dalam larik puisi diposisikan sebagai sebuah kepastian yang selalu dinanti, yang umumnya lebih banyak dinikmati oleh kaum perempuan. "Senja itu sebenarnya adalah jalan pulang, memberi ruang bagi kita untuk beristirahat sejenak dan menikmati kembalinya mentari ke peraduannya. Yang indah dari senja bukan sekadar warnanya yang jingga, melainkan kepastian untuk pulang ke rumah," tegas Nong Yonson.

Nong Yonson menjelaskan, ketenangan hidup manusia pada dasarnya dibangun di atas dua fondasi utama tersebut, yakni kepastian rasa dan kepastian untuk pulang. Ketika seorang pria dan wanita duduk bersama menikmati dua elemen ini, percakapan yang lahir di antara mereka akan menjelma menjadi refleksi kehidupan yang sangat luar biasa.

Ia juga menerangkan bahwa dalam dinamika sastra, seorang penyair tidak boleh menyiksa pembacanya dengan kosakata yang terlalu sulit dipahami. Keindahan puisi yang baik justru terletak pada kemampuan kata-kata sederhana yang mampu memicu aspek pengandaian dan pembayangan yang melekat kuat di ingatan pembaca sejak baris pertama hingga terakhir.

Sektor sastra daerah di NTT juga diharapkan terus bertumbuh secara inovatif lewat pemanfaatan simbol-simbol sederhana ini. Melalui pendekatan kelas sastra yang interaktif, generasi muda di tingkat sekolah dasar bahkan telah dibimbing untuk menuliskan karya-karya puisi bertema senja demi melatih kepekaan rasa dan mengagumi figur keluarga.

Nong Yonson berharap masyarakat dan para pencinta sastra di Nusa Tenggara Timur dapat memetik esensi moral dari perpaduan kopi dan senja untuk diterapkan dalam kehidupan sosial. "Kopi dan senja adalah gambaran kejujuran dan kepastian di dalam diri setiap manusia. Kita hanya bisa diterima oleh sesama apabila kita mampu menghadirkan aspek kejujuran dan memberikan kepastian dalam berperilaku," tutupnya. (Daten)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....