Diksi yang Tepat Jadi Kunci Melahirkan Puisi Bernyawa
- 06 Jul 2026 22:39 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Pilihan kata atau diksi yang tepat menjadi kunci utama bagi seorang penyair dalam melahirkan karya sastra yang bernyawa.
Sastra tidak sekadar menyajikan keindahan kata, melainkan harus mampu menjadi media kontemplasi yang mendalam bagi pembacanya.
"Sepi dan sunyi itu bukan sinonim di dalam sastra, tetapi keduanya memiliki makna yang jauh berbeda.
Sepi itu sifatnya subjektif emosional yang merujuk pada ketiadaan sosok atau orang lain, sedangkan sunyi bersifat objektif spiritual yang berarti ketiadaan suasana, memberikan ruang bagi kita untuk merenung," kata Penulis dan Penyair NTT, E. Nong Yonson saat diwawancarai dalam program Kecapi Pro 4 RRI Kupang, Sabtu, 4 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa kekuatan gambaran tentang sunyi dan sepi dalam sebuah karya tidak hanya muncul dari imajinasi penyair, tetapi juga diperkuat oleh penggunaan majas seperti personifikasi, metafora, hingga paradoks.
Melalui majas-majas tersebut, benda mati dapat dihadirkan untuk menggambarkan kesunyian yang mendalam.
"Puisi yang baik tidak boleh hanya menonjolkan aspek estetika yang hampa, melainkan harus dilengkapi dengan etika. Karya puisi harus tetap indah secara estetis dan santun dari segi kebahasaan, salah satunya dengan tidak menyinggung unsur SARA," ujar Nong Yonson.
Nong berharap program "Kecapi" (Ketong Baca Puisi) yang disiarkan oleh Pro 4 RRI Kupang ini dapat terus menjadi wadah edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan penyair pemula di NTT, untuk memahami teknik penulisan puisi yang matang dan kaya akan makna. (Daten)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....