Rindu Kampung Halaman, Fitrah Manusia yang Diakui Islam
- 15 Jun 2026 12:03 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Merindukan kampung halaman adalah perasaan yang hampir dimiliki setiap manusia. Jauh dari tempat kelahiran, keluarga, sahabat, dan kenangan masa kecil sering kali menimbulkan kerinduan yang mendalam. Dalam pandangan Islam, rasa rindu terhadap tanah kelahiran bukanlah sesuatu yang tercela, bahkan merupakan bagian dari fitrah manusia yang Allah tanamkan dalam hati hamba-Nya.
Islam mengakui bahwa manusia memiliki kecintaan terhadap tempat tinggal dan tanah kelahirannya. Hal ini tampak dari sikap Rasulullah ﷺ ketika harus meninggalkan Kota Makkah akibat tekanan kaum Quraisy.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ memandang Makkah dan bersabda:
"Demi Allah, sungguh engkau adalah negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaummu tidak mengusirku darimu, niscaya aku tidak akan tinggal di tempat lain."
(HR. At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh sebagian ulama)
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki rasa cinta dan kerinduan yang besar terhadap kampung halamannya. Namun, beliau tetap mendahulukan ketaatan kepada Allah ketika harus berhijrah demi menjaga agama.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
"Dan sekiranya Kami perintahkan kepada mereka: 'Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu,' niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka."
(QS. An-Nisa: 66)
Ayat ini menunjukkan bahwa meninggalkan kampung halaman merupakan sesuatu yang sangat berat bagi manusia. Allah menyebutkannya sejajar dengan ujian yang sangat besar, menandakan betapa kuatnya keterikatan seseorang dengan tanah kelahirannya.
Ketika telah berada di Madinah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat Muhajirin masih merasakan kerinduan kepada Makkah. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa para sahabat sering mengenang kampung halaman mereka.
Namun kerinduan tersebut tidak membuat mereka mengeluh terhadap takdir Allah. Mereka menjadikan kerinduan itu sebagai motivasi untuk bersabar dan terus berjuang di jalan Allah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa hadis-hadis tentang kecintaan Rasulullah ﷺ kepada Makkah menunjukkan bolehnya mencintai tanah kelahiran dan tempat tinggal. Kecintaan tersebut merupakan tabiat alami manusia selama tidak mengalahkan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sementara itu, Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa manusia secara naluriah mencintai tempat yang di dalamnya terdapat keluarga, sahabat, dan kenangan hidupnya. Oleh karena itu, kerinduan terhadap kampung halaman adalah perkara yang wajar dan tidak bertentangan dengan syariat.
Meskipun Islam membolehkan dan memahami rasa rindu terhadap kampung halaman, seorang muslim tetap harus menjaga agar perasaan tersebut tidak membuatnya lalai dari kewajiban agama.
Allah berfirman:
"Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya."
(QS. At-Taubah: 24)
Ayat ini mengajarkan bahwa kecintaan kepada kampung halaman dan keluarga adalah hal yang dibolehkan, tetapi tidak boleh melebihi kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rindu kampung halaman mengingatkan seseorang kepada orang tua, keluarga, dan masa-masa yang pernah dilalui. Perasaan ini juga dapat menumbuhkan rasa syukur atas nikmat keamanan, kebersamaan, dan kenyamanan yang dahulu mungkin dianggap biasa.
Bagi seorang muslim, kerinduan tersebut seharusnya menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, berbakti kepada orang tua, dan mendoakan kebaikan bagi negeri serta kampung halamannya.
Islam memandang rindu kampung halaman sebagai sesuatu yang alami dan manusiawi. Rasulullah ﷺ sendiri menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Makkah, tanah kelahirannya. Al-Qur'an dan para ulama juga menjelaskan bahwa meninggalkan kampung halaman merupakan ujian yang berat bagi manusia. Namun, seorang muslim harus memastikan bahwa kecintaan kepada tanah kelahiran tetap berada di bawah kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kerinduan itu menjadi ibadah yang bernilai, bukan sekadar perasaan yang melalaikan.(TP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....