Musim Dingin di NTT: Fenomena Normal yang Tetap Perlu Diwaspadai
- 14 Jun 2026 15:50 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Stasiun Meteorologi Kelas I El Tari Kupang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa udara dingin yang dirasakan masyarakat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) selama musim kemarau merupakan fenomena musiman yang normal.
Kondisi yang dikenal masyarakat dengan istilah “bediding” ini umumnya terjadi pada periode kemarau dan menyebabkan suhu udara terasa lebih rendah dibandingkan biasanya.
Menurut BMKG, bediding merupakan istilah yang digunakan di beberapa daerah Indonesia, terutama di Pulau Jawa, untuk menggambarkan udara yang terasa lebih dingin pada musim kemarau. Fenomena ini bukan merupakan kejadian luar biasa, melainkan bagian dari dinamika cuaca yang terjadi setiap tahun saat musim kemarau berlangsung.
Salah satu penyebab utama udara dingin di NTT adalah pengaruh Angin Monsun Australia atau Monsun Timur. Pada periode Juni hingga September, Australia mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Asia melalui wilayah Indonesia membawa karakteristik udara yang lebih dingin dan kering. NTT menjadi salah satu wilayah pertama yang dilalui aliran massa udara tersebut.
Selain itu, posisi semu matahari juga berkontribusi terhadap penurunan suhu udara. Saat matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), wilayah di Belahan Bumi Selatan (BBS), termasuk NTT, menerima radiasi matahari yang lebih sedikit. Berkurangnya intensitas penyinaran menyebabkan suhu udara menjadi lebih rendah dibandingkan periode lainnya.
Faktor lain yang memperkuat kondisi dingin adalah langit yang cerah dan minim tutupan awan selama musim kemarau. Pada siang hari, sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi sehingga udara terasa panas. Namun pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer karena tidak ada awan yang berfungsi menahan panas. Akibatnya, suhu udara dapat turun cukup drastis menjelang dini hari.
Ketinggian wilayah juga memengaruhi suhu udara di NTT. Semakin tinggi suatu daerah, semakin rendah suhu yang dirasakan. Sebagai contoh, wilayah Ruteng di Kabupaten Manggarai yang berada di atas 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) dapat mengalami suhu di bawah 10 derajat Celsius pada puncak musim kemarau. Kondisi ini membuat udara dingin lebih terasa dibandingkan daerah pesisir atau dataran rendah.
BMKG menegaskan bahwa fenomena udara dingin di NTT tidak disebabkan oleh aphelion, yaitu kondisi ketika jarak Bumi berada lebih jauh dari Matahari. Pengaruh aphelion terhadap cuaca harian di permukaan bumi dinilai tidak signifikan. Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengenakan pakaian hangat, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dan lanjut usia agar terhindar dari dampak udara dingin selama musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....