Psikologi dan Islam Bahas Larangan Bunuh Diri

  • 27 Apr 2026 07:57 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Fenomena bunuh diri menjadi perhatian serius di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Dalam banyak kasus, tindakan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan tekanan mental, emosi, dan kondisi hidup yang berat. Baik dari sisi psikologi maupun agama, bunuh diri dipandang sebagai persoalan kompleks yang perlu ditangani dengan pendekatan yang bijak dan manusiawi.

Dalam kajian psikologi, bunuh diri sering dikaitkan dengan gangguan seperti Depresi. Kondisi ini membuat seseorang kehilangan harapan, merasa tidak berharga, dan melihat hidup sebagai beban.

Para ahli menyebut bahwa individu yang memiliki keinginan bunuh diri sebenarnya tidak selalu ingin mengakhiri hidup, melainkan ingin menghentikan rasa sakit emosional yang mereka alami. Pandangan ini diperkuat oleh teori dari Edwin Shneidman yang memperkenalkan konsep “psychache” atau rasa sakit psikologis mendalam.

Menurutnya, bunuh diri terjadi ketika seseorang tidak lagi mampu menahan penderitaan batin yang dirasakan, sehingga melihat kematian sebagai satu-satunya jalan keluar. Sementara itu, dalam perspektif agama, khususnya Islam, bunuh diri dilarang secara tegas. Dalam Al-Qur'an disebutkan:

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29) Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan adalah amanah yang harus dijaga, bukan diakhiri secara sengaja.

Selain itu, Islam juga memberikan peringatan melalui hadis yang diriwayatkan oleh Nabi Muhammad: “Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, maka ia akan disiksa dengan itu di neraka Jahannam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun demikian, Islam tidak hanya menekankan aspek larangan. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga mengedepankan nilai kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

Orang yang mengalami tekanan hidup berat dianjurkan untuk dibantu, didampingi, dan diberikan harapan, bukan dihakimi atau dijauhi. Sebagai penyeimbang, Al-Qur’an juga memberikan pesan harapan yang kuat:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”

(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa dalam kondisi seberat apa pun, harapan selalu ada dan pertolongan Allah tidak pernah tertutup. Baik psikologi maupun Islam memiliki titik temu yang kuat dalam memandang persoalan ini.

Keduanya sepakat bahwa kehidupan manusia sangat berharga dan harus dijaga. Selain itu, keduanya juga menekankan pentingnya dukungan sosial bagi individu yang sedang berada dalam kondisi terpuruk.

Dengan memahami bunuh diri dari dua sudut pandang ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menyikapi persoalan tersebut. Pendekatan yang menggabungkan pemahaman mental dan nilai spiritual diyakini mampu menjadi langkah efektif dalam mencegah tindakan bunuh diri, sekaligus memberikan harapan bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesunyian. (TP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....