Penyuluh Katolik Ajak Bijak Bermedia Sosial di Masa Prapaskah
- 02 Mar 2026 05:48 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Penyuluh Agama Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Nusa Tenggara Timur, Zakarias Paus Tola, mengajak umat memaknai masa Prapaskah dengan memperbaiki cara menilai sesama, khususnya di media sosial. Ia menyoroti maraknya verbal bullying dan hinaan yang melukai banyak orang akibat penggunaan media sosial tanpa pertimbangan moral.
“Di masa Prapaskah ini, kita diajak untuk memberikan penilaian dengan baik dan benar dalam hubungan dengan sesama kita. Setiap persepsi tentang orang lain yang dituangkan lewat kata-kata, sikap tubuh, maupun tulisan di media sosial harus dipertimbangkan secara matang,” ujar Zakarias Paus Tola di Pro1 RRI Kupang, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menilai media sosial kini kerap menjadi ruang pelampiasan emosi tanpa tanggung jawab. Banyak orang berlindung di balik akun anonim untuk menghina dan menghakimi orang lain secara serampangan.
Fenomena tersebut, lanjutnya, menimbulkan luka batin yang mendalam bagi korban. Tidak sedikit orang yang merasakan sakit hati luar biasa akibat komentar pedas dan serangan verbal di ruang digital.
Sebagai orang beriman, umat Katolik diingatkan untuk menolak godaan menggunakan media sosial secara tidak bijak. Tugas kenabian yang diterima melalui baptisan menuntut setiap orang menjadi pewarta kebenaran dengan bahasa yang santun dan membangun.
“Kita dibaptis dengan memikul salah satu tugas yaitu tugas kenabian di mana kita harus menjadi pewarta kebenaran. Kebenaran harus disampaikan dengan bahasa kenabian, bukan dengan hinaan atau perundungan melalui akun palsu dan konten tidak bertanggung jawab,” katanya.
Zakarias juga menekankan bahwa seorang murid Kristus sejati akan lebih memilih mengoreksi diri daripada membicarakan keburukan orang lain. Ia mengajak umat untuk membedakan antara gosip dan kritik membangun, serta menyampaikan masukan secara langsung, bukan di belakang.
Menurutnya, sikap dewasa dalam iman tampak dalam kemampuan menahan diri dan membawa segala penilaian dalam doa. Dengan demikian, media sosial tidak lagi menjadi “tempat sampah” emosi, melainkan ruang pewartaan kebenaran dan kasih. (ST)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....