Fenomena FOMO: Ketakutan Tertinggal di Era Digital
- 15 Feb 2026 21:11 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - FOMO atau Fear of Missing Out adalah perasaan cemas atau takut ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Fenomena ini semakin umum terjadi sejak munculnya media sosial seperti Instagram, TikTok, dan platform digital lainnya.
Melalui media sosial, orang dapat melihat kehidupan orang lain secara real time, mulai dari liburan, pencapaian karier, hingga gaya hidup. Hal ini sering memicu perasaan bahwa orang lain menjalani kehidupan yang lebih menarik atau lebih sukses.
FOMO tidak hanya berkaitan dengan hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan penting dalam kehidupan. Misalnya, seseorang mungkin merasa harus mengikuti tren tertentu, membeli barang terbaru, atau menghadiri suatu acara hanya karena orang lain melakukannya.
Keputusan tersebut sering kali bukan berdasarkan kebutuhan pribadi, tetapi karena dorongan untuk tidak merasa tertinggal. Akibatnya, seseorang bisa merasa tertekan dan kehilangan kendali atas pilihan hidupnya sendiri.
Media sosial menjadi faktor utama yang memperkuat FOMO karena menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Orang cenderung membagikan momen bahagia dan kesuksesan, tetapi jarang membagikan kesulitan atau kegagalan.
Hal ini menciptakan persepsi yang tidak seimbang dan membuat orang lain membandingkan kehidupan mereka dengan standar yang tidak realistis. Perbandingan ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu kecemasan.
Selain berdampak pada kesehatan mental, FOMO juga dapat memengaruhi produktivitas dan fokus. Seseorang yang mengalami FOMO cenderung sering memeriksa ponsel, media sosial, atau notifikasi karena takut melewatkan sesuatu.
Kebiasaan ini dapat mengganggu konsentrasi dalam bekerja, belajar, atau menjalani aktivitas sehari-hari. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kelelahan mental dan menurunkan kualitas hidup.
Untuk mengatasi FOMO, penting bagi seseorang untuk menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti. Fokus pada tujuan pribadi, membatasi penggunaan media sosial, dan menghargai momen yang sedang dijalani dapat membantu mengurangi perasaan tersebut.
Mengembangkan pola pikir yang disebut JOMO (Joy of Missing Out), yaitu menikmati hidup tanpa merasa harus mengikuti semua tren, dapat menjadi solusi yang sehat. Dengan begitu, seseorang dapat hidup lebih tenang, percaya diri, dan bahagia tanpa tekanan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. (ADM)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....