Makna di Balik Upacara Metatah dalam Tradisi Hindu
- 23 Okt 2025 10:36 WIB
- Kupang
KBRN, Kupang: Upacara Potong Gigi atau yang dikenal dengan Metatah atau Mepandes merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara Manusa Yadnya umat Hindu. Upacara ini bukan sekadar prosesi fisik berupa pengikiran gigi taring, tetapi memiliki makna spiritual dan filosofis yang sangat mendalam. Dalam tradisi Hindu di Bali, Metatah menjadi simbol peralihan menuju kedewasaan, di mana seseorang dianggap telah siap untuk mengendalikan diri, meniti kehidupan dengan penuh tanggung jawab, serta menjalani hidup sesuai dengan ajaran dharma. Hal Ini disampaikan oleh Gusti Ayu Sukarmiasih, S.Ag. Penyuluh Agama Hindu pada Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi NTT dalam Acara Mutiara Pagi Pro 1 RRI Kupang (Rabu/22/10/2025).
Makna utama dari upacara Metatah adalah sebagai simbol penyucian diri dan pengendalian enam musuh dalam diri manusia yang disebut Sad Ripu. Keenam musuh tersebut terdiri atas Kama (nafsu), Lobha (keserakahan), Krodha (kemarahan), Mada (kesombongan atau kemabukan), Moha (kebingungan atau lupa diri), dan Matsarya (iri hati atau dengki). Pengikiran gigi taring secara simbolis melambangkan usaha menyingkirkan sifat-sifat keraksasaan yang dapat menguasai hati manusia. Dengan dilaksanakannya upacara ini, diharapkan seseorang mampu mengendalikan dan mengalahkan Sad Ripu, sehingga jiwanya menjadi lebih bersih, tenang, dan seimbang.
Selain memiliki makna spiritual, Metatah juga mengandung nilai tanggung jawab sosial dan keluarga. Upacara ini dianggap sebagai bentuk pembayaran Rna atau utang orang tua kepada anak. Orang tua berkewajiban melaksanakan Metatah sebagai wujud kasih sayang dan rasa tanggung jawab untuk menyucikan jiwa anaknya. Melalui upacara ini, anak diantarkan menuju tahap kehidupan yang lebih dewasa, tidak hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani. Proses ini menjadi simbol keberhasilan orang tua dalam mendidik dan membimbing anak agar siap menempuh kehidupan dengan dasar kebajikan.
Dalam dimensi spiritual yang lebih dalam, Metatah juga dipercaya sebagai bentuk persiapan menuju alam Pitra atau alam leluhur. Umat Hindu meyakini bahwa pelaksanaan Metatah akan mempermudah pertemuan roh antara orang tua dan anak di Pitraloka setelah meninggal dunia. Sebaliknya, bagi yang belum melaksanakan Metatah, dipercaya akan mendapat hambatan di alam baka karena masih membawa sifat keraksasaan yang belum disucikan. Oleh sebab itu, upacara ini dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.
Dengan demikian, upacara Metatah bukan hanya sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga merupakan warisan budaya dan spiritual yang sarat makna. Ia mengajarkan pentingnya pengendalian diri, penyucian batin, dan penghormatan terhadap leluhur. Melalui pelaksanaan Metatah, umat Hindu diingatkan untuk senantiasa menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan agar dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran, kebijaksanaan, dan keseimbangan antara duniawi dan spiritual.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....