Pertanian Berkelanjutan Jadi Solusi Ketahanan Pangan NTT
- 03 Okt 2026 17:52 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang - Stigma bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah yang selalu diidentikkan dengan ancaman kekeringan dan rawan pangan dinilai perlu diubah. Pengelolaan potensi sumber daya lokal yang tepat serta adaptasi teknologi pertanian berkelanjutan menjadi kunci untuk menjadikan daerah ini mandiri secara pangan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Community Organizer Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM), Martyn Radja Riwu, dalam dialog Obrolan Akamsi di Stasiun RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 29 September 2026. Martyn, yang merupakan alumni Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, menilai tantangan iklim dan kondisi lahan kering di NTT seharusnya tidak dijadikan alasan untuk menganggap daerah ini miskin potensi pertanian.
"NTT memiliki bentangan lahan kering yang sangat luas dan berpotensi besar. Saya tidak percaya kalau kita bilang pangan di sini selalu kurang terjangkau hanya karena faktor iklim. Yang kita butuhkan adalah kemampuan mengelola kekayaan alam dan sumber daya lokal tersebut dengan ilmu serta ketekunan," ujar Martyn.
Berdasarkan pengamatannya saat mempelajari sistem pertanian di kawasan Gurun Arafah, Israel, pada 2024 lalu, Martyn menyoroti pola pikir pengolahan lahan yang masih mendominasi di tingkat petani lokal. Menurutnya, ketergantungan yang tinggi pada pupuk dan obat-obatan kimia sintesis sering kali mempercepat penurunan kualitas tanah lahan kering.
"Di NTT, kita masih sangat bergantung pada pupuk dan pestisida kimia yang dijual secara bebas. Padahal di negara dengan iklim lebih ekstrem, kunci keberlanjutan lahan mereka terletak pada pemberian bahan organik secara konsisten sejak awal tanam," katanya.
Ia menambahkan, penggunaan bahan organik yang dikombinasikan dengan inovasi tepat guna seperti sistem irigasi tetes (drip irrigation) mampu menjaga produktivitas tanah lahan kering secara berkala tanpa merusak ekosistem. Menghadapi ancaman fenomena iklim seperti El Nino dan isu kesejahteraan masyarakat, Martyn optimistis penerapan ketahanan pangan berbasis potensi daerah dapat memberikan kontribusi nyata bagi penanganan isu-isu strategis daerah, termasuk pengentasan stunting.
Sebagai langkah nyata untuk memperkuat kapasitas pendampingan masyarakat, Martyn yang juga terpilih dalam program magang pertanian Kementerian Pertanian RI ke Taiwan pada November 2026 mendatang, berkomitmen untuk mendalami varietas tanaman unggul yang tahan perubahan iklim. "Dengan niat belajar, menambah keterampilan, dan keberanian melakukan terobosan baru, kita bisa membuktikan bahwa NTT mampu menghasilkan komoditas pangan unggulan yang diperhitungkan di tingkat nasional," kata Martyn di akhir dialog.
Melalui kolaborasi antara pemanfaatan bahan organik, adaptasi teknologi ramah lingkungan, serta dukungan kebijakan pangan yang berpihak pada petani lokal, potensi lahan kering NTT diharapkan dapat terkelola secara optimal demi terwujudnya kemandirian pangan daerah. (TT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....